Kumpulan Cerpen

Contoh Cerpen, Puisi dan Sastra

Saturday, February 2, 2013

Aroma Musim Semi


Kyoto. Kota dengan rona-rona sakura yang memesona dari segala sudut. Kota ini sarat akan aroma musim semi, yang menguar dari kelopak-kelopak bunganya dan menyentuh kerongkongan jiwa dengan ketenangan. Ia membuat aorta yang semula menyempit menjadi lapang kembali, dan degupan jantung yang berpacu gila-gilaan merileks dengan seketika.

Kyoto dengan sakura-sakuranya selalu memiliki cara tersendiri untuk menjerat atensi manusia-manusia pemuja keindahan. Salah satu bukti konkretnya adalah kau.

Bukankah kau selalu menyukai detik ketika kelopak-kelopak itu lahir dari ranting-ranting kurus pohon? Ketika warna pohon yang kusam itu menjelma terang oleh warna-warna merah jambu di tiap dahannya. Ketika angin meniupi nakal bunga-bunga itu, hingga terbang sebagian kelopaknya mengangkasa, membawa aroma musim semi.

Ah, musim semi.

Ia selalu mengingatkanmu pada gadis itu. Gadis yang memiliki aroma yang sama. Aroma musim semi. Membuat hidungmu begitu dimanjakan saat kalian menyatu.

Pun napasnya. Seperti angin musim semi. Halus juga menyejukkan. Kau begitu menggemarinya, bukan? Kala ia meniupi tengkukmu dengan lembut, kebiasaannya setiap kali kau rasa gebalau di sudut hatimu.

Hei, lihat, ia datang!

Musim semi-mu.

“Maaf membuatmu menunggu. Aku tadi—“

“Aku baru saja tiba.”

Kau tak lagi mempermasalahkan dusta yang baru saja kauucapkan kala mendapati sebentuk senyum di bibir cantik itu. Jelas saja. Haruskah kau bekata bahwa menunggu selama dua jam itu membosankan? Hei, paling tidak kau mendapat kompensasi memandangi elok bunga-bunga sakura itu bergoyang riang dipermainkan angin. Jarang-jarang angin sekencang ini berembus di tengah musim semi.

Detik-detik berikutnya hanya dilatari oleh suara gemerisik bunga yang berayun ke sana kemari mengikuti irama angin, juga aliran air dari sungai Kamogawa di hadapan kalian.

Kau meraih satu bunga sakura yang dapat kaujangkau dari salah satu ranting yang rendah, lalu menyematkannya di balik daun telinga milik gadismu. Ia tampak tertegun sesaat, kemudian menunduk dengan setengah tersipu. Sedang kau hanya terdiam menatapnya, mereguk seluruh keindahannya sedalam yang kau bisa. Sebab kau hapal benar, inilah mungkin yang terakhir kalinya.

“Ren,” suara lembut yang membuatmu bergidik menenangkan.

Kau diam. Ia pun diam. Hening kembali menyeruak, meninggalkan spasi kosong yang menggantung di udara.

“Maaf.”

Dan hanya dengan satu katanya itu, hatimu tersuwir sempurna.

“Kenapa?” tanya bodohmu. Bukankah kau telah mengetahui jawabannya, eh?

“Dunia kita berbeda. Jikalaupun dilanjutkan, aku ragu kita masih dapat menjaga komitmen. Kau tahu, 'kan, jarak kita nanti... sangat berjauhan.”

Kau mengisap berpuluh kali lipat oksigen dengan hidungmu, seolah paru-parumu sudah begitu kekeringan. Kau menolak untuk menoleh, menatap ke dalam sepasang manik beningnya bukanlah suatu hal yang bagus. Mata itu seperti medan magnet bagimu, membuatmu terjatuh lagi dan lagi.

Dan kau semakin menegang kala mendapat sentuhan di lenganmu, mengusapnya dengan sangat lembut dan perlahan. Seolah kau akan hancur jika sedikit saja ia mengeraskan sentuhannya.

Bukankah kau memang sudah hancur, eh?

“Kenapa harus sampai seperti ini?” kau bergumam halus, bahkan suara rumput pun sanggup mengalahkannya.

Ia tersenyum. Kau masih bergeming dari posisimu—tak menoleh—namun kau masih dapat menemukan senyumnya melalui ekor matamu. Manik hitam kelammu terpejam pedih saat kata-kata itu meluncur dari mulutnya,

“Seharusnya kau mendapatkan gadis yang lebih baik, Ren. Karena kau pemuda yang baik.”

Lalu dengan kalimat terakhir itu, ia beranjak meninggalkanmu.

Grep.

Langkahnya terhenti dengan sempurna tatkala kau menggapai tangannya. Gadis itu tak berpaling, tak juga membalas genggaman tanganmu. Bagus, tetaplah seperti itu. Sebab kau takkan pernah membiarkannya pergi bila wajahnya tertatap olehmu.

Kau begitu mengasihinya. Ia memang bukan napasmu, bukan matahari yang menyangga laju hidupmu, bukan kerangka yang menopangmu berdiri, bukan pula nyawamu. Ia bukanlah duniamu.

Klise. Itu analogi kuno, dan terlalu berat untuk manusia macam kau. Karena itu artinya jika ia tak ada, maka kau sama dengan mati. Cinta platonik tak pernah seperti itu. Ia akan saling menghidupkan, bukan mematikan.

Ia bagimu hanya seperti sebatang cokelat.

Kau takkan mati konyol jika ia pergi, takkan kehilangan cahaya yang menghangatkanmu, kau tentu masih dapat berdiri. Kau takkan rasa dahaga, atau merasa sesak sebab terenggut napasmu. Hanya saja—

—kau kehilangan kesempatan untuk mencecap rasa manis yang mendamaikan.

Ia seperti cokelat yang membawa rasa manis ke dalam tenggorokanmu. Lalu meleleh, melumurinya dengan manis yang menghangatkan. Hatimu takkan lagi balau, ia menenang dengan seketika. Dan ketika cokelat itu telah habis, ada sedikit rasa pahit yang menjejak. Membuatmu ingin mencecapnya lagi dan lagi. Dan entah sejak kapan, kau selalu candu akan kehadirannya.

Ia sungguh seperti sebatang cokelat.

Kau meraih satu tangannya yang lain, merangkum keduanya dengan lembut. Ia masih membelakangimu. Kau meniup tengkuknya, seperti yang sering ia lakukan padamu dahulu. Ada kurva yang membentuk simpul tipis di bibirmu kala tubuhnya bergetar. Ia ingin membalas genggamanmu, begitulah kaurasa.

“Jangan membalas, tetaplah seperti ini,” katamu seraya menyandarkan dagumu di puncak kepalanya. “Atau aku takkan pernah melepaskanmu.”

Kau menghirup dalam-dalam aroma musim semi yang menguar dari tubuh gadismu. Ah, mantan gadismu.

“Dengar, aku akan mengucapkan sesuatu dan kau tidak boleh membalasnya.”

Ia bergeming. Kau tersenyum.

“Aku menyayangimu, Ruka.”

Tubuhnya semakin bergetar. Hanya dengan begitu, kau berhasil menemukan rasa yang masih tersisa dalam dirinya.

“Jika suatu saat kau sendiri dan seluruh dunia berpaling darimu, menolehlah ke belakang,” kau mengembuskan napasmu keras-keras, hingga beberapa helai rambut halusnya berayun. “... ada aku di belakangmu.”

Karena kita tak mungkin lagi berjalan beriringan.

Kau merasakan kepala di bawah dagumu mengangguk perlahan, dan itu membuat bibirmu bergetar ingin tersenyum. Ulu hatimu menghangat ketika kaudengar sesuatu yang keluar dari bibir sang gadis, sayup-sayup di telingamu,

“Terima kasih.”

Genggaman yang mengerat di tangannya adalah jawabanmu atasnya. Kau tahu ia akan pergi. Maka untuk terakhir kali biarkanlah kau merasakan kehangatannya. Juga aroma musim semi-nya.

“Sampai jumpa.”

Seiring kata-kata itu lolos dari mulutmu, genggaman itu terlepas. Ia melangkah perlahan, tanpa menoleh. Biarlah seperti itu. Karena jika tidak, kau akan menariknya kembali dan takkan pernah kaulepaskan lagi.

Kyoto. Kota dengan rona-rona sakura yang memesona dari segala sudut. Kota di mana dua hati meluluh lantak, remuk hingga menjadi serpih.

Di bawah pohon sakura yang berguguran bunganya, kau terpaku. Di bawah pohon sakura yang berguguran bunganya, gadis itu pergi, tanpa menoleh, meninggalkan sebuah aroma di sana.

Aroma musim semi.

By : Della Annissa Permatasari
Jamaluddin Djavu cerpen, cerpen cinta, cerpen remaja
Thursday, January 31, 2013

Afeksi


“Sudah berapa kali kukatakan jangan pernah mengusikku lagi, Bodoh!”

“Tidak mau! Aku dilahirkan untuk selalu mengganggumu, kau tahu!”

Tawa meruak setelah itu. Disusul derap langkah khas anak kecil yang menghentak-hentak keras menjauh dari ruangan. Meninggalkan segenang air kuning beraroma pesing yang menyengat di lantai. Gadis itu berjongkok di depannya, mengusap cairan itu, membiarkan lap di genggamannya ternoda. Sebuah helaan napas meluncur dari mulutnya.

“Sudah sepuluh tahun, masih saja mengompol,” ia lalu membanting lap yang telah basah itu hingga cairan yang dikandungnya terciprat ke segala arah. “AKU TIDAK SUDI MEMANGGIL ANAK JOROK SEPERTIMU ‘ADIK’, DASAR ANAK BODOH!!”

*************************

Gia, Tante ada urusan bisnis di luar kota. Sementara ini, kau jagalah adikmu dengan baik. Ada Mbok Marni yang akan membantumu.
P.S: Akur-akurlah dengan adikmu, ya.

Gia tak tahu apa reaksi tantenya jika ia tahu bahwa pesan singkatnya hanya dibalas dengan dengusan lelah dari dirinya. Akur? Yang benar saja. Ia bahkan tak ingat lagi kapan tepatnya terakhir kali ia bisa tampak harmonis dengan seonggok makhluk berjiwa yang menjengkelkan itu.

Ah, benar! Sudah lama sekali. Sudah lama sekali sosok malaikat manis yang dahulu bersemayam dalam diri adiknya itu tenggelam. Gia tak tahu apakah itu karena ‘kepulangan’ orang tua mereka pada Tuhan beberapa tahun silam, atau ada probabilitas yang lain.

Ada apakah?

Yang pasti, bocah itu sungguh telah bertransformasi menjadi setan kecil yang gemar sekali mendidihkan darahnya hingga rasanya cukup ampuh untuk melelehkan besi.

BRAK!

Oh, setan kecil datang. Dan sesaat lagi akan melahirkan gebalau di seisi rumah.

“Tutup pintu yang benar, Dion!” seru Gia seraya mendecak kesal ketika mendapati adiknya di depan pintu rumah. “Apa-apaan pakaianmu itu!?”

Dion hanya mengedikkan bahunya tak acuh. Sementara kakaknya menatap nyalang ke arah pakaiannya yang awut-awutan dan berlumur lumpur.

“Habis dari mana, kamu?” sengitnya dengan lipatan lengan di dada.

“Bukan urusan Kakak!” adalah satu kalimat yang membuat kedua mata Gia terbeliak menahan amarah.

“Jawab kalau Kakak tanya, Anak Nakal!”

Ekspresi Dion menajam seketika. Wajahnya memerah dan bibirnya mengerucut kesal. Sebuah sandal melayang dari tangannya dan mendarat dengan sempurna di muka sang kakak. “Berisik!” jeritnya kalap.

Ia berlari masuk ke dalam rumah, melewati kakaknya yang mengatupkan rahangnya keras-keras, seolah menahan hasrat untuk mencekik adik memuakkannya itu. Desisan mengerikan keluar dari bibirnya yang gemetar.

“Aku benci padamu, Anak Nakal.”

*************************

Entah sudah berapa kali dengusan sebal meluncur dari bibirnya hari ini. Ia tak peduli jika dirinya kini tampak seperti seekor kerbau. Mana ia mau peduli? Satu-satunya hal yang paling ia pedulikan di dunia saat ini hanyalah seonggok buku dengan deretan tulisan yang membuat otaknya berasap di tangannya. Konyol! Sungguh! Karena tangan laknat yang telah membuat tulisan memusingkan itu tak lain adalah tangannya sendiri.

BRUK!

Gia merasa sofa yang didudukinya dihantam benda besar hingga membuat dirinya melayang sesaat. Ia tak perlu lagi menolehkan kepala untuk memastikan ‘benda’ macam apa itu yang bernyali memorak-parikkan konsentrasinya.

“Kakak, main, yuk!”

Helaan napas panjang, “Kakak sedang sibuk.”

Gia masih tekun dengan aktifitasnya hingga tak melihat orang di sampingnya menggembungkan pipinya sebal.

“Sebentar saja, Kak. Aku bosan.”

“Kakak sibuk, Dion. Main saja dengan Mbok Marni, sana!”

Kadar kekesalan bocah itu bereskalasi puluhan kali lipat. Ia lantas menarik buku skripsi yang tengah dipegang kakaknya. Namun rupanya genggaman sang kakak terlalu sukar dilepas sehingga yang terjadi berikutnya adalah saling adu tarik.

“Apa yang kau lakukan!? Lepas!” raung Gia.

“Tidak mau! Kakak harus mau main dulu denganku!”

“Dion! Cepat lep—”

BREEK!

Gia bersumpah, itu adalah suara paling menyayat dalam sejarah hidupnya. Ia hanya mampu termangu seolah gugu, begitupula adiknya yang menyiratkan ketakutan dan rasa bersalah.

Bibir Dion membuka-mengatup seolah hendak berbicara, matanya menatap gentar wajah kakaknya dengan robekan skripsinya bergantian. Baru ketika ia menyentuh tangan kakaknya, wajah cantik itu beralih padanya dan menebarkan ancaman. Gadis itu berdiri menghentak.

“Sampai kapan kau akan terus menggangguku, hah!? Lihat, puas kau sekarang!? Bisamu hanya mengusik hidupku! Dasar perusak!”

Oh, sungguh! Benarkah suara yang menggaung di rumah ini adalah suaranya? Gia bahkan tak mengindahkan adiknya yang menatapnya dengan sorot takut dan giginya yang bergemeletuk menahan tangis.

“Ma—maaf,” lirih Dion, lebih mirip sebuah bisikan halus.

Cukup! Ini sudah sangat cukup untuk Gia. Jika gangguan tak dapat menghindar dari hidupnya, maka ia-lah yang mesti menghindarkan diri darinya.

Gia beranjak pergi dengan langkah memburu. Pergi dari hadapan adiknya untuk waktu yang lama pastilah akan membuat hidupnya lebih baik, menciptakan kedamaian yang sempat andam karam.

Dan malam itu, Gia benar-benar tak mengobral ampun untuk si bocah. Gadis itu lebih memilih pergi ketimbang menolehkan kepala pada adiknya di belakang, yang menggapai-gapaikan tangannya, ke arah dirinya.

*************************

Rembulan tampak pucat malam ini. Jari-jari Tuhan tak mencipta gemintang yang biasanya berserakan di langit. Hanya serakan awan hitam yang terasa menyelubungi bumi dengan cekamannya.

Gia terdiam menikmati cairan manis itu lolos membasahi tenggorokannya, menghangatkan hatinya yang menggigil. Diletakkannya cangkir beraroma cokelat itu di meja. Tangannya hendak mendarat di deretan keyboard komputernya, tepat ketika suara dering telepon meraung-raung di sudut ruangan.

“Halo,” adalah kata yang terlontar ketika benda itu menempel di telinganya.

“Gia,” suara di seberang sana.

Gia hapal benar suara itu, “Tante? Ada apa meneleponku malam-malam begini?”

“Gia,” entah mengapa Gia merasa suara riang tantenya itu kini sedikit memarau, “... adikmu sakit, Sayang.”

Alisnya terangkat, “Lantas?”

“Dia kritis sekarang,” ada isakan kecil di seberang sana. “Kau tidak ada niat untuk pulang, Gia?”

“Aku sibuk,” ia mengeluarkan nada sedingin yang ia bisa. “Kalau Tante memintaku untuk pulang agar dia bisa menggangguku dan melakukan kesalahan fatal lagi, maaf saja.”

“Tapi tengoklah adikmu sekali saja, ia sudah begitu lemah,” jeda sejenak sementara Gia hanya bergeming. “Ada yang ingin bicara denganmu.”

Gia baru saja hendak menutup telepon dan kembali pada pekerjaannya, saat suara itu muncul di telinganya.

“Kakak.”

Begitu lemah. Begitu lirih.

Padahal dahulu suara itu adalah suara paling membisingkan di dunia bagi Gia. Suara yang sangat ingin diredamnya. Sekaligus suara yang berdengung menyakitkan di gendang telinganya belakangan, menimbulkan sensasi yang tak pernah bisa dipahaminya. Mungkin, rindu?

“Kakak, pulang...” suara itu terdengar seperti meracau. “Aku mau ketemu.”

Gia memerih mendengarnya. “Iya, nanti Kakak pulang.”

“Aku minta maaf sudah nakal sama Kakak,” ia melemah. “Habis, Kakak suka sibuk terus.”

Gia mencengkeram erat dadanya.

“Aku cuma ingin diperhatikan Kakak seperti dulu lagi.”

Gadis itu trenyuh. Segenap kata-katanya tertelan sempurna.

“Maafin aku, ya.”

“Maafin Kakak juga,” manik hitamnya tergenang cairan bening. “... karena sudah marah-marah sama Dion.”

Gia tersenyum kecil kala mendengar kekehan tertahan dari adiknya di seberang sana. Lalu senyumnya memudar di detik kemudian, cairan di matanya menganak sungai. Ia bersumpah, otaknya akan merekam gugusan kata-kata adik kecil yang diutarakannya ini.

“Aku dilahirkan untuk selalu menyayangi Kakak.”

Gia menangis dalam diam. Menyimpan rasa ngilu yang mengambil alih jantungnya. Ia menggenggam erat-erat telepon dengan kedua tangannya. Ia ingin bicara, namun semakin keras upayanya, maka semakin keras pula isakan yang keluar dari bibirnya.

“Kalau Kakak mau ke sini, belikan aku robot Ultraman yang besar, ya,” suaranya semakin mengecil. “Aku akan menunggu Kakak pulang.”

Gia mengangguk keras-keras, seolah lawan bicaranya bisa menyaksikannya. “Kakak pasti pulang buat temani Dion. Kakak janji takkan sibuk lagi, Kakak akan selalu perhatikan Dion. Dion boleh nakal sama Kakak, Kakak tidak akan marah-marah sama Dion lagi. Dion harus sembuh, ya.”

Tidak ada lagi yang ia ajak bicara.

“Kakak sayang sama Dion.”

Gia merasakan seperti ada batu yang menghantam punggungnya, ketika terdengar jeritan tantenya di seberang sana, meneriakkan nama ‘Dion’ berulang kali, lalu disusul tangis yang memecahkan gendang telinganya.

Ia terisak luar biasa, namun tanpa suara. Gia mendekap gagang telepon itu di dadanya, lalu jatuh terduduk.

“Katamu kau akan menunggu Kakak pulang, Dion,” tangisan itu mengencang, kali ini dengan suara yang sarat akan perih, seperti nganga luka yang ditaburi garam. “Dasar anak nakal.”

Rembulan tampak pucat malam ini. Jari-jari Tuhan tak mencipta gemintang yang biasanya berserakan di langit. Hanya serakan awan hitam yang terasa menyelubungi bumi dengan cekamannya.

Juga desau angin yang menyenandungkan notasi-notasi elegi.


_____________________________________________________________________________

IDENTITAS PENULIS

Terlahir dengan nama Della Annissa Permatasari. Sebut saja Della atau apapun yang kau mau, aku takkan mengintimidasimu. Menjadi penghuni bumi sejak 26 Mei 1995, sudah sangat lama sekali, se-lama komik Naruto terbit dalam waktu dekat. Aku terjerat dalam dunia menulis semenjak bergabung dengan sebuah situs fanfiksi yang hebat, mengubahku yang bahkan bertahun-tahun lalu kuragukan sama sekali. Terima kasih untuknya.

Jamaluddin Djavu cerpen, cerpen motivasi, cerpen remaja

Bidadariku, Bidadari Kecilku


Sore itu langit cerah, angin membawa uraian rambutku yang bebas lepas. Duduk di balkon kamar memandangi pemandangan langit ritualku setiap sore. Langit itu menggambarkan hati ku yang sedang luas sekali perasaan cintanya. Reza, lelaki yang sudah dua tahun bersamaku itu sosok terindah yang selalu menemani hari ku.

Beb hari ini kita jalan yuk?nanti aku jemput
di rumah ya, 15 menit lagi aku sampe loh!

Baru saja aku memikirkannya smsnya hadir , ah Reza. Langsung saja aku balas

Mau kemana?iya-iya kebiasaan deh kalo lagi iseng
ngajak pergi dadakan terus

Dan benar saja 15 menit kemudian dia datang menjemputkku, mataku di tutup sepanjang jalan. Aku hanya terdiam di dalam mobil, entah makhluk kesayanganku ini akan membawaku kemana. Kira-kira sudah satu jam aku berada di mobil barulah dia memberhentikkan perjalanan ini.

“Beb, sudah samapai” panggil Reza lirih
“Udah boleh di buka belom?” jawabku
“Tunggu, kamu harus ikutin kata-kata ku ya”
“Emang ini dimana?”
“Udah kamu nurut aja” . Aku pun mengikuti semua arahan Reza sampai aku disuruh duduk di suatu tempat yang aku juga tidak tahu ini ada dimana.

“Nah kamu sekarang boleh buka tutup mata kamu” Reza pun memberi aba-aba untuk ku membuka mata. Aku pun menuruti perintahnya, dan
“Wo-w Za, ini? Ini kamu yang nyiapin semua?aaaku , ah kamu Za” aku pun tersentak melihat sekelilingku, ya ini Kawah Putih dengan tatanan meja kecil yang mungkin bisa di bilang ini dinner yang terlalu cepat, maksudku ini masih sore, aku terharu dengan kejutan ini.

“Iya ini aku yang nyiapin semua, kamu suka beb?” tanyanya sambil memegang tanganku dan menatapku penuh harapan.
“Aku SUKA! SUKAAAAAA BANGETT !” aku membalas tatapanya, dan tak terasa air mataku jatuh,
“Hey hey, kok kamu nangis. Aku nyiapin ini semua buat kamu. Aku ingin kamu menjadi bidadari ku yang akan melahirkan bidadari kecil kita. Apa kamu mau?” tanya Reza sambil bersimpuh di depanku layaknya Romeo yang sedang meminta cinta Juliet.

“K—amuu, kamu melamarku Za? ” tanyaku heran namun di hati ini bahagianya bukan main, Reza pun mengangguk yang menandakan dia membenarkan pernyataanku
“Uuuhh kamu ya Za, aku mau lah. Mau banget” jawabku sambil memeluknya. Aku bisa merasakan alam pun ikut berbahagia dengan kami, ya mereka menari dan menggoyangkan dahan serta angin menyentuh mesra kami berdua.
“ Beb, kalau lamaran bulan depan kamu mau?”

“Santai beb, kapan pun boleh kok” kataku sambil tertawa. Hari ini hari terindah, dimana Reza melamarku dengan penuh kejutan. Banyaknya huruf, banyaknya kata tidak bisa mewakili kebahagiaan yang sedang aku rasakan. Sewaktu kita masih kuliah dulu kita selalu membayangkan kehidupan nanti saat kita menikah, dan sekarang perjalanan ini akan di mulai.
**

Persiapan lamaran pun sudah mulai di lakukan, aku dan calon ibu mertua ku pergi bersama untuk berbelanja seserahan kami, Reza tidak ikut menemaniku karena dia sedang sibuk bekerja. Aku pun mengurus semua persiapan lamaran ku sendiri, aku memaklumi kesibukan Reza yang membuatnya semakin jarang menghubungi ku padahal ini acara kami, bukan acara ku saja. Seperti biasa, kalau usil ku datang jam 11 malam pun aku telepon dia dengan private number,

Tuuuttt.....

“Halo...” suara perempuan terdengar , aku pun tersentak, aku gugup, aku diam
“Siapa honey?” terdengar suara Reza lirih dan berat seperti baru saja terbangun, aku makin terdiam dan air mataku jatuh tiba-tiba. Siapa wanita itu, kenapa dia bersama Reza malam ini, kenapa Reza memanggilnya honey, kenapa???
“Halo??? Jangan ganggu malam-malam ya anda” bruk, telepon ku ditutup, dan suara barusan itu Reza. Apa ini semua? Apa yang harus aku lakukan.
**

Siang itu, aku manfaatkan untuk mengunjungi kantor Reza. Aku masih menyimpan beribu pertanyaan dari semalam, dan Reza pun tidak tahu aku akan datang mengunjunginya.

“Mbak Pak Reza nya ada?” tanyaku kepada sekretarisnya
“Maaf bu, Pak Reza sedang ada meeting dengan klien siang ini” jawabnya
“Kalau saya boleh tau dimana ya?”
“Di loby apartemen Pak Reza bu”
“Apartemen?”
“Iya bu”
“Oh ya sudah, terimakasih” aku pun berjalan keluar kantor penuh lamunan, memang ada ya pertemuan di apartemen? Ah sudahlah aku kesana saja.
**

Di lobi apartemen Reza tidak tampak aktifitas pertemuan, hatiku semakin gundah tak karuan melangkahkan kaki ku ke kamar milik Reza. Aku mempunyai kunci cadangan yang dia berikan kepadaku karena dia bilang ini pemberian nya untuk kado lamaranku kemarin. Ku arahkan kunci ke lubangnya, dan betapa kagetnya aku melihat Reza bersama wanita lain di atas ranjang.

“Beb --” aku pun berkata karena mereka pun tidak sadar aku sudah berada di sana,
“ Beb, dia siapa?” tanyaku pelan menelan ludah.

“Heh! Ngapain kamu kesini, lancang banget kamu!” mukanya tampak murka
“Beb, aku tunangan kamu. Besok kita lamaran beb, ini aku cuma mimpi kan liat kamu begini?”  dengkulku terasa lemas, aku bertanya sambil duduk di atas karpet

“ Apa? Tunangan? Hei! Kita belum tunangan, mana cincin bukti tunangan kita?” tanyanya dengan nada keras
“ Kamu sadar beb kamu ngomong gitu?” air mataku kali ini benar-benar jatuh
“SADAR DAN DENGAN SANGAT SADAR” dia pun semakin terlihat angkuh sambil memeluk wanita itu, “KAMU MEMBOSANKAN SHELA”

“ Apa arti kamu melamarku kemarin? Arti kamu bersimpuh memohon aku menjadi bidadari kamu? Memohon aku untuk terus mencintaimu? Apa artinya Za, sekarang dengan mudah kamu bilang aku membosankan? “ tanyaku yang mulai menangis

“Kemarin ya kemarin, sekarang ya sekarang Sel. Gausah terlalu serius lah” jawabnya dengan mudah.
“Gampang banget ya kamu bicara seperti itu, besok acara kita Za. Persiapan sudah matang, kamu lagi ngerjain aku kan Za. “ aku pun menguatkan diri dan berdiri menghampiri Reza dan menggoyangkan pundaknya
“Za, bilang ke aku, kamu lagi main-main kan Za? Iya kan Za? IYA KAN ZA” aku pun berteriak dan plak
Reza menamparku

“PERGI KAMU!” usir Reza,

“Baik Za, aku Cuma mau bilang makasih atas semua perhatian kamu. Makasih kamu mau memberikan hal yang sangat aku inginkan dari kamu, walaupun cuma awal yang kamu beri. Asal kamu tau, lamaran kemarin sangatlah berarti buat aku, itu hal yang aku inginkan sejak kita membina semua hubungan ini” kataku sambil pergi, aku berusaha terus mengusap air mataku sepanjang jalan namun apa daya, air mata ini terus mengalir deras. Apa yang harus aku katakan kepada orang tuaku, saudara yang sudah berkumpul untuk besok menyambut pangeran ku melamar dengan resmi, ya ALLAH apa yang harus aku lakukan.

**
Semua keluarga telah mengetahui persoalan antara aku dan Reza, mereka kecewa. Ya mereka sangat kecewa, apalagi aku yang mengalami ini semua. Aku mencoba tegar di depan semua orang namun ketika aku sendiri semua berubah total. Waktu terus berjalan, dan aku harus terus menata hidupku tanpa Reza, walaupun terasa berat. Kenagan indah itu selalu muncul di pikiranku, dia yang dulu selalu memanjakanku, dia menyuapiku yang sedang susah makan, kita yang berjuang bersama menyelesaikan skripsi bersama, dia yang menggendongku di tengah keramaian saat aku tidak kuat berjalan, dia yang menguatkan aku saat aku sedih. Sekarang aku sendiri, siapa yang akan menghapus airmataku seperti dulu Reza menghapus air mataku.
**
Tak terasa ini sudah tahun berikutnya setelah tahun lalu Reza mengkhianatiku dan menghancurkan impian-impian ku. Marah? Tidak sedikit pun aku membencinya, mungkin banyak yang bilang kalau aku wanita bodoh yang dengan mudah memafkan Reza yang sudah jelas mengkhianatiku di depan mata dan membuat malu orangtuaku dengan membatalkan lamaran itu. Aku masih yakin ini adalah bentuk kepenatan hubungan kita yang selalu tenang selama 2 tahun lebih, karena aku tau di setiap hubungan masa jenuh memang ada. Saat aku melamunkan kejadian tahun lalu, ponselku berbunyi.

Nomor tak di kenal,

“ Shela?” suara lelaki jauh disana, namun sepertinya suara itu sudah tidak asing
“Iya, ini siapa?” tanyaku
“Kamu udah hapus nomorku ya sel? Ini aku Reza” dan jantungku terasa berhenti berdetak, ini Reza?
“Oh kamu, kenapa? Apa kabar?” tanyaku dengan mencoba menyembunyikan rasa terharu ku
“Kamu gak marah sama aku Sel?”

“Buat apa aku marah, kan kamu sendiri yang selalu mengajariku untuk tidak marah-marah , Cuma bikin capek” jawabku dengan pura-pura santai
“Bisa ketemu Sel?” tanyanya
“Boleh, dimana?”
“Jam 4 sore di tempat biasa ya Sel”
“Oke, see you there”

Apa yang aku lakukan? Aku menerima ajakan pria yang telah mengkhianatiku danmembatalkan lamaran sehari sebelum harinya?? Aku rasa aku sudah gila.

**

Aku pun duduk di bangku tempat kita berpacaran dahulu,  seperti biasa Reza orang yang tidak bisa on time, dan tiba-tiba mataku di tutup oleh tangan seseorang. Aku kenal harum tangan ini, tapi kenpa jemarinya terasa tidak seperti Reza yang berbadan cukup berisi. Aku pun membalikkan badanku, benar itu Reza

“Hai Sel?” sapanya, dia terlihat kurus. Entah kenapa dia berubah setelah satu tahun kami tidak bertemu
“Hai Za, kamu sakit Za?” tanyaku
“Enggak kok Sel? Kamu apa kabar selama satu tahun ini?” tanyanya dengan nada yang sama, nada waktu dia masih mencintaiku dengan benar

“Aku baik kok Za, itu kamu sekarang kurang tidur ya? Pasti begadang terus nih”
“Hihi Shela, kamu masih sama ya. Masih seperti bidadari mungilku yang cerewet” ledek Reza
“Masa?”

“Iya Sel, aku mau minta maaf soal kejadian satu tahun lalu. Aku masih ingat betapa brengseknya aku” obrolan serius pun mulai, dia memegang tanganku dengan hangat dan matanya pun berkkaca-kaca. Aku bisa merasakan ini Reza yang dahulu, Reza yang selalu menginginkan aku disisinya.

“Aku bener-bener tergoda dengan wanita itu. Entah kenapa aku juga bisa seperti itu dan..” sebelum Reza menyelesaikan kata-katanya itu, tanganku menghalangi bibirnya dengan telunjukku

“Udah Za, aku bisa ngerti. Mungkin benar kata kamu waktu itu, aku membosankan. Hubungan kita yang selalu berjalan tanpa rintangan mungkin menyebabkan kejenuhan, dan masa jenuh itu datang saat kita sedang mempersiapkan hari penting kita” jelaskku

“Sel, kamu bener gak marah sama aku?” tanyanya ragu namun aku hanya tersenyum dan aku menggeleng sambil tersenyum

“Senyum kamu yang membawa aku menghubungi kamu Sel, aku kangen senyum itu. Kangen manjamu Sel. Aku masih mencintaimu Sel” Reza berkata sambil menjatuhkan air mata, baru kali ini dia menjatuhkan airmata di depanku.

“Aku juga Za, aku masih sangat menyayangimu. Mungkin teramat sayang denganmu” kataku sambil menangis di peluknya

“Sel, apa kali ini kamu masih mau menjadi bidadariku? Dan memberikanku bidadari kecil?”

“Apa kali ini kamu tidak akan menyakitiku lagi?” tanyaku ragu

“Aku janji Sel, besok aku datang melamarmu” , kami pun tertawa kecil dan akhirnya cita-cita kami untuk membina sebuah rumah tangga pun terlaksana.

Kesalahan memang selalu ada di dalam hidup, namun menyimpan dendam dengan orang yang di sayang sangatlah sia-sia. Karena kamu tidak akan pernah bisa membencinya.


By : Kishi Aprilia Paramita

Jamaluddin Djavu cerpen cinta, cerpen remaja

МАТРЁШКА (Matryoshka)

"Hidup itu, layaknnya Matryoshka, Stalin." Nenek Larova tak pernah bosan mengatakan itu padaku.

"Maksud Nenek?" dan entah berapa kali aku menanyakan 'maksud' Nenek Larova itu.

Seperti biasa, Nenek Larova tak pernah menjawab apa tanyaku. Nenek Larova hanya menjawab.
"Kelak kau akan mengerti, Stalin Gorvashkovsky."

Lagi-lagi aku hanya bisa menghela napas pasrah.

Aku tahu apa yang dimaksud dengan Matryoshka. Sebuah boneka yang dapat disimpan boneka yang lebih kecil di dalamnya. Aku juga melihat banyak Matryoshka di dalam sebuah etalase.
Meski berbeda-beda, puluhan boneka itu mempunyai ciri yang sama. Bola mata yang hitam dan lebar, dengan pipi merona merah dihiasi senyum mengembang. Wajah-wajah itu dipadukan dengan lukisan pakaian khas Rusia, berikut serumpun kembang, atau sekeranjang buah dan roti. Tapi, ada satu Matryoshka yang berbeda, boneka itu terletak di pojok kiri etalase.

Aku tak pernah mengerti, kenapa akhir-akhir ini Nenek Larova keranjingan membuat boneka tersebut. Sejak tiga hari yang lalu, saat ia datang ke Moskwa―dimana rumahku berada―dari Yekaterinburg. Nenek Larova sengaja membeli etalase dan bahan-bahan boneka tersebut, dia pun mulai membuat boneka-boneka itu sejak tiga hari lalu.

Delapan Matryoshka telah berhasil Nenek Larova buat hari ini―dengan cara manual. Kalian tidak percaya bahwa Nenek Larova membuatnya hanya dengan cara manual? Yeah, aku pun juga begitu.

"Stalin, kautahu betapa besarnya rasa cintaku terhadap Matryoshka?" ujar Nenek Larova sambil melukis wajah salah satu Maryoshka. Percuma aku menjawab, kadang jawaban yang menurutku benar, dia tidak pernah dengarkan.

Beberapa saat kemudian … seorang masuk ke rumah ini. Dia adalah seorang gadis manis bersurai panjang.

"Selamat malam, Nenek Larova," sapa orang itu.

"Latvya, apa kau mau membeli bonekaku?" sahut Nenek Larova dengan wajah riang. Dia menyuruh gadis itu untuk melihat-lihat 'para' boneka tersebut.

"Begitulah," timpal gadis bernama Latvya itu. "Nek, kenapa yang di pojok kiri etalase itu berbeda dari yang lain? Rambutnya terbuat dari rambut manusia―mungkin." Latvya berpendapat kala melihat boneka yang terlihat eksentrik dibandingkan yang lainnya.

"Itu Matryoshka yang pertama kali kubuat di Moskwa ini. Apa kau tertarik, Latvya?" balas Nenek.

"Tentu saja, Aku mau yang itu. Berapa itu harganya?"

"Sayang sekali, Latvya, aku tidak menjual yang itu. Atau mungkin kau ingin kubuatkan yang serupa?" tanya Nenek Larova.

"Kenapa? Aku bisa membayar Maryoshka itu seharga 4000 Rubel." sergah Latvya yang tampak kecewa.

"Tiga kali-lipat kau membayarnya pun, aku tetap tidak akan menjualnya, Latvya." sanggah Nenek.

"Kenapa?"

"Kadang, sesuatu tidak harus beralasan, bukan? Tapi, jika kau mau, aku bisa membuatkan yang seperti itu untukmu, Latvya. Hanya, mungkin yang cocok untukmu adalah Matryoshka betina." Nenek menawarkan boneka lain kepada Latvya.

Latvya terlihat mengerutkan dahinya. "Tapi, tidak akan mahal 'kan?" kelakarnya, "bagus, aku juga ingin dibuatkan, Nek."

"Kalau begitu, mari ikuti aku. Aku akan membuat sketsanya untukmu."

Nenek Larova mengajak Latvya ke ruangan yang juga pernah kumasuki bersama Nenek Larova. Ruangan yang seharusnya tak ia masuki...

Butuh beberapa jam Nenek Larova menyelesaikan bonekanya. Setelah menjelang pukul sembilan malam, Dia pun keluar dari ruangan itu dengan membawa sebuah Matryoshka dengan surai panjang.

Nenek Larova mendekatiku, dan meletakan Matryoshka itu tepat di sampingku.

"Selamat malam, Stalin, Latvya."

Akhirnya, sejak tiga hari yang lalu aku tak mempunyai teman, kini aku mempunyai teman di pojok kiri etalase...


МАТРЁШКА_Rafael Azka Kireiza
by : ZAGADKA

Livetsk, 07′05′12

Jamaluddin Djavu cerpen
Wednesday, January 30, 2013

Bukan Dia, Tapi Aku


Dinginnya angin malam berhembus pelan menyapu lekuk wajah senduku. Aku tak menghiraukan seberapa menggigilnya aku saat ini. Orang yang kuinginkan untuk menghangatkan hatiku, kini telah pergi untuk menghangatkan hati orang lain. Aku mendongak menatap kelamnya langit malam. Gelap! Sama seperti hatiku saat ini. Tak ada lagi cahaya yang menyinari hatiku, cahaya itu pergi menyinari hati orang lain. Aku tersenyum miris. Kurasakan mataku memanas dan mengeluarkan tetes demi tetes cairan bening, saksi dari kepedihan hatiku yang kian membara.

Entah sudah berapa tetes air mata yang kukeluarkan. Aku tak peduli. Hatiku terlanjur perih. Kekuatanku seakan hilang dalam sekejap. Ketegaran yang telah kubangun, runtuh dalam hitungan detik. Aku terjatuh! Aku bahkan tak sanggup menopang beban tubuhku sendiri. Aku lemah!

Aku menekuk kedua lututku dan menenggelamkan wajahku disana. Menangis … hanya menangis yang mampu kulakukan, walau kutahu itu takkan membuat cintaku kembali….

***
Aku berjalan gontai menyusuri koridor kampus menuju kantin bersama sahabatku, Fitri. Aku dan Fitri berjalan beriringan dalam diam. Mungkin Fitri tahu jika aku enggan untuk berbicara lantaran suasana hatiku yang sedang sangat kacau. Mataku kembali memanas ketika Davo, mantan kekasihku, berjalan ke arahku. Disampingnya, ada seorang gadis cantik yang bergelayut manja di lengan kirinya. Aku sadar, kini lengan kekar itu tak lagi milikku, bukan lagi hakku.

Aku menunduk saat kurasa butiran bening mulai menggenang di pelupuk mata bundarku. Tidak! Aku harus tegar, aku tak boleh menangis di hadapan Davo, walau aku pun tahu ini sangat menyakitkan. Aku harus bisa merelakan Davo untuk Reva. Ini demi kebaikan mereka. Aku mengusap kasar air mata yang perlahan jatuh membasahi pipiku.

 Aku kembali mendongak saat di hadapanku berdiri dua orang yang telah sengaja membuat hatiku merasakan perih, dua orang yang sanggup membuatku menangis, membiarkan air mata ini terjatuh untuk mereka. Aku tersenyum menatap kedua orang itu. Senyum yang sebenarnya sanggup melukai relung jiwaku.

Reva membalas senyumku hangat. Sedangkan Davo, ia lebih memilih untuk membuang muka. Ah, kau masih saja tampan. Dengan alis tebal yang hampir bertautan, hidung yang mancung, dan garis wajah yang tegas mempu membuatku selalu memujanya. Ah! Aku kembali tersadar, wajah menawan itu bukan lagi milikku.

“Terima kasih, Ima, Kau telah merelakan Davo untukku. Aku tahu kau sakit, maafkan Aku… Aku benar-benar membutuhkannya disisa-sisa umurku. Aku mohon, jangan pernah membenci Davo. Ia tak pantas kau benci. Maafkan aku….” Davo mengusap air mata Reva yang mulai menetes. Jelas saja, aku iri terhadapnya. Setiap kali ia menangis, selalu ada orang yang menghapus air matanya. Sedangkan Aku? Apa aku tak berhak marah? Apa Aku tak boleh iri kepadanya? Aku rapuh! Air mataku kembali tumpah. Aku tak sanggup jika harus membendungnya lebih lama lagi. Aku cemburu terhadap Reva. Ia bahkan berhasil mendapatkan Davo, orang yang sangat kucintai. Sedangkan Aku, apa yang bisa kuperbuat?! Aku hanya bisa merelakannya walau hati ini terasa tercabik-cabik. Aku tak berdaya menahannya, cintaku telah pergi ke lain hati.

“Semoga kalian langgeng!” ujarku menahan sesak. Fitri mengusap pundakku-menguatkanku agar tetap teguh. Fitri menuntunku menjauhi kedua orang itu. Mungkin Fitri tahu bahwa aku telah sangat sakit. Tapi belum jauh aku melangkah, sebuah tangan mencegahku untuk pergi. Aku menoleh ke arahnya... Reva. Ah, kupikir yang menahanku tadi adalah tangan....

“Apa?”

“Ini undangan pernikahan kami. Datanglah... kumohon! Dan ini untukmu, Fit!” ujar Reva seraya menyodorkan undangan yang terlilit pita berwarna merah kepadaku dan Fitri. DEG! Napasku tercekat, tubuhku seketika melemas. Aku menatap kosong undangan itu tanpa mengambilnya. Hatiku tergores kembali untuk kesekian kalinya. Air mataku kembali menetes. Tuhan, apa belum cukup kau menyiksaku hari ini? Apa masih ada lagi kejutan untukku?

“Aku dan Davo akan menunggumu. Kalau kau tidak datang, kami tak akan memulai pernikahan kami,” lanjutnya seraya mengusap air mataku. Aku tersenyum kecut dan mengambil undangan itu. Aku memandang Davo yang sedari tadi diam. Apa lelaki itu tak tahu bahwa aku ingin sekali memeluknya dan menangis dalam dekapan dada bidangnya itu?

“Aku akan datang!”

***
Aku sudah mengetahuinya…
Ada gadis lain di sisinya…
Aku merelakannya…
Meskipun aku tahu…
Rasa sakit,
Tetap saja terasa….

(BLAM!)

Aku menutup pintu kamarku dengan keras, menguncinya, dan menyandarkan kepalaku pada pintu yang telah tertutup rapat. Aku memejamkan kedua mataku, merasakan sesak yang tiba-tiba menghimpit dadaku. Perlahan cairan bening ini menerobos melalui celah-celah mata terpejamku.

Aku tak bisa menahannya, menahan air mata agar tetap bersembunyi pada bola mata bundarku. Aku tak bisa! Seperti aku yang tak bisa menahan Davo agar tetap tersimpan dalam hatiku. Setidaknya … untuk sekedar mencurahkan cintaku padanya, aku tak bisa.

Perlahan kubuka kelopak mata ini, dan menghapus air mata yang telah menganak sungai dipipiku. Sebuah kotak yang tergeletak di atas laci samping ranjang, menarik perhatianku. Aku mendekati kotak itu dan mengambilnya.

Ku usap perlahan lapisan debu yang melapisi kotak itu dan membuka kotak yang berisi setiap kenangan manisku bersama Davo. Benda pertama yang menarik perhatianku adalah selembar foto berisi dua insan remaja yang tengah tertawa bahagia … dengan pipi seorang gadis dalam gambar yang terlumuri es krim dan seorang lelaki yang sedang menertawai gadis itu. Itu aku dan Davo….

Aku begitu merindukan saat-saat bersamamu, Davo. Aku mohon, kembalilah kepadaku. Aku janji, jika kau mau kembali kepadaku, kau boleh menertawaiku sepuasnya sebab hal-hal ceroboh yang kulakukan. Tapi, ayo! Kembali padaku!! Aku membutuhkanmu, Davo!!

Cairan bening itu kembali terjatuh mengaliri pipiku. Semakin aku mengusapnya, semakin deras pula air mata yang mengalir. Aku berbaring menatap langit-langit kamarku, pikiranku jauh melayang. Kubiarkan air mata ini terjatuh percuma untuk Davo. Perlahan, rasa kantuk mulai melandaku, karena hari ini aku lelah sekali, baik lelah fisik maupun batin, akhirnya kuputuskan untuk kembali bersemayam ke mimpi, alam keduaku.

***
Aku menatap pantulan diriku dalam cermin besar. Dress biru laut selututku nampak pas dengan tubuh mungilku. Mataku masih saja sembab setelah seharian ini Aku terus menangis. Aku kecewa dengan orang-orang yang tega menyakitiku. Aku kecewa dengan orang-orang yang telah merebut hatiku. Aku kecewa pada diriku sendiri yang hanya bisa merelakan cintaku pergi ke cinta lain. Aku kecewa!! Aku lelah menghadapi semua ini, Tuhan! Aku lelah!! Peluk aku, Tuhan… sebentar saja.

Aku menarik napas dalam-dalam seraya memejamkan kedua mataku. Meresapi setiap udara yang melintas lembut di rongga hidungku. Aku membuka kelopak mataku setelah kutemukan ketenangan dalam jiwaku. Aku memutuskan untuk pergi ke sana, ke pernikahan Davo dan Reva. Tuhan, teguhkan hatiku….

***
Davo tampak tampan dengan tuxedo hitamnya, sedangkan Reva sangat anggun dengan balutan gaun panjang putih dan rambut tergulung ke atas. Reva menatapku seraya tersenyum. Aku membalas senyumnya hangat. Pandanganku beralih pada Davo yang rupanya juga menatapku. Aku tak tahu arti pandangan itu padaku... yang kutahu, Davo pasti sangat bahagia dengan gadis di sampingnya itu. Aku tersadar dan segera membuang muka. Aku tak sanggup menatap dalam matanya. Mata itu terlalu menyakitkan untukku.

“Baiklah, kita mulai acara pernikahan ini. Ayo, Reva, pasangkan cincin itu ke jari manis Davo,” perintah ayah Reva. Reva segera menyematkan cincin berlian itu ke jari manis Davo.

“Nah, sekarang giliranmu, Davo....” Davo segera mengambil cincin itu dan kembali menatapku. Aku menunduk–mengalihkan perhatianku dari hal menyakitkan bagiku. Aku tak rela melihat orang yang sangat kucinta bersanding dengan orang lain. Aku tak rela! Namun, aku bisa apa?

Davo kembali menatap cincin itu dan segera memasukkannya pada jari lentik Reva. Suara sorakan tepuk tangan memenuhi ruang dengarku. Aku diam-diam berlari keluar dengan air mata yang kian deras. Aku berlari ke pekarangan rumah Reva seraya menangis. Menangis dalam sunyinya malam. Kenyataan ini benar-benar sulit kuterima. Aku tak bisa melepas Davo.

“KEMBALIKAN DIA UNTUKKU, TUHAN! AKU BUTUH DIA!!” Aku berteriak menumpahkan amarah yang terus bergejolak dalam dada. Aku tak peduli bila orang-orang menatapku aneh atau apapun itu, aku tak peduli. Hatiku terlanjur pedih!

“Ima!!” Aku menoleh ke belakang-ke arah orang yang memanggilku. “Davo?”

Aku berlari ke arahnya dan memeluknya… memeluk dengan sangat erat seakan tak kuizinkan ia pergi lagi dariku. Davo membalas pelukanku sangat erat.

“Jangan tinggalkan Aku, Davo!” pintaku disela-sela tangisku. Ia melepaskan pelukanku dan menghapus lembut air mataku. Aku sangat merindukanmu, Davo!!

“Maafkan aku,” hanya itu yang keluar dari mulutnya. Ia memelukku lagi dan memererat pelukannya.

“Aku harus kembali … carilah pengganti yang lebih baik dariku, Ima. Aku menyayangimu!” ia mulai merenggangkan pelukannya dan mengecup lembut keningku. Davo membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhiku. Aku menatap punggung besarnya yang menjauh hingga benar-benar hilang dari pandanganku. Aku menggelengkan kepala tak percaya. Tubuhku merosot jatuh ke tanah.

***

-THE END-


By : -Dian Agustin-

Jamaluddin Djavu cerpen, cerpen cinta, cerpen remaja
Monday, January 14, 2013

Enigma


Keterangan :
Tulisan bercetak miring adalah ulasan masa lalu.

"ENIGMA"

Sudah kesekian puluh menit manik hitam wanita tua itu hanya mengekori tubuh tak mau diam milik anak perempuan di sana. Bergerak tubuhnya ke kanan, lalu kembali berjalan ke kiri beberapa detik setelahnya, ke kanan, kemudian ke kiri, begitu seterusnya. Ia nampak terlalu sibuk, bahkan hanya untuk sekadar menghela napas saja. Demi Tuhan! Menggerakkan matamu dengan kecepatan angin tak bisa tidak membuatmu jengah. Demikian pula dengan wanita tua itu.

“Penjepit daging! Aku lupa penjepit dagingnya!” si anak perempuan itu berseru seorang diri, masih menenggelamkan diri pada kegiatan individualnya. Beberapa potong daging yang masih merona tanda segar, terkulai kaku di atas sebuah panggangan yang berdiri cukup tinggi. Menghasilkan kabut asap tipis dengan aroma sedap yang dengan nakalnya akan menggamit hidungmu dan merasuk hingga menjejak di dinding kerongkongan laparmu.

“Biar Nenek yang mengambilnya, sepertinya ada di gudang,” suara wanita tua itu membuat si gadis kecil menoleh dan memamerkan ekspresi senangnya.

“Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Nek.”

Si ‘Nenek’ menepukkan tangannya ke kepala gadis itu dengan perasaan gemas, kemudian memilih untuk segera berlalu.

Matanya sedikit menyipit ketika bersua dengan kondisi gudang yang hanya disinari oleh temaram lampu di sudut ruangan. Ia juga agak tersentak kaget saat sofa yang didudukinya tiba-tiba melahirkan suara derit yang menjerit-jerit, mungkin karena telah habis digerus waktu.

Keringatnya meluncur dengan seketika saja, bisa jadi karena ruangan ini terlalu pengap untuk wanita setua dirinya. Celah-celah ventilasi yang ada tak cukup menjadi media terjadinya sirkulasi udara. Belum lagi penjepit daging yang menjadi menu utama kedatangannya ke tempat ini, tak juga dijumpainya.

Bunyi ‘klontang’ agak nyaring tiba-tiba terdengar manakala ia menjatuhkan sebuah buku tebal ke atas ‘sesuatu’ entah apa. Dipungutnya benda itu. Ia sedikit mengernyit bingung pada kotak kaleng yang dibungkus debu tebal di genggamannya, membuka perlahan-lahan mozaik ingatan yang hilang berhamburan kepingannya tentang kotak itu.

Ada suara jerit si sofa lagi tatkala ia duduk di atasnya, kemudian membuka pelan-pelan kotak itu, takut debunya menusuk mata. Lalu ia tertawa. Betapa tawanya sarat akan rasa lega dan geli, ketika didapatinya sebuah buku besar namun tak terlalu tebal dengan tulisan “Album Kenangan” tertera di mukanya. Ia membuka lembar-lembar halaman yang masih utuh itu dengan wajah yang cerah, dan tawa kembali merongrong di ruangan kecil itu.

Ada foto-foto dirinya bersama sahabat-sahabatnya dahulu kala.

Dahulu sekali, saat ia berada dalam fase terproduktif dalam masa hidupnya. Masa produktif dalam berkarya dan bercita-cita, yang anak remaja zaman sekarang menyebutnya ‘masa muda’.

Atmosfir tiba-tiba berubah meneduh. Ia tersenyum senang namun bercampur getir ketika memandang foto-foto itu. Dan kedua matanya berhenti di salah satu foto yang paling besar. Dipandanginya seorang gadis cantik yang tersenyum sembari merangkul dirinya. Kawan hidup dan matinya. Karena sampai entitas asli dari potret gadis itu ‘pulang’ kepada-Nya mendahului dirinya, mereka tetaplah menjadi sepasang kawan.

Ia membuai perlahan potret gadis itu. Bibir bergetarnya mendesiskan sesuatu, “Sani.”

“Saniiiii!!”

“Berisik, Ami! Kau mau membuatku tuli muda?”

Yang ditegur hanya meringis, “Kau tahu tidak? Aku... aku... aah!” gadis itu berteriak seperti orang yang baru melihat kuntilanak tersedak biji durian.

Sani menunjukkan ekspresi ‘Tuhan-dosa-apa-aku-sehingga-diberi-sahabat-seperti-ini?’. Namun di detik selanjutnya, ia hanya pasrah sebab mafhum menyadari ke-slebor-an otak milik sahabatnya. “Apa? Kau digigit tomcat?”

Bibir tipis milik Ami nampak maju beberapa senti, “Bukan! Tapi...” wajahnya berubah girang lagi dengan seketika, sehingga tampak konyol namun menggemaskan di mata Sani. “Kak Raven tersenyum ke arahkuu!”

Ada keterkejutan yang terpancar dari air muka Sani, “Hah? Bagaimana bisa?”

Ami berdehem sebentar, seperti petinggi negara yang hendak menyampaikan pidato kampanye di depan rakyatnya, “Tadi aku sedang di kantin, mati-matian bujuk Bu Ratih agar aku boleh mengutang lagi. Tapi, Bu Ratih malah ngamuk-ngamuk gitu.”

Sani melongo dengan parah. Ya ampun, anak ini menceritakan hal itu dengan begitu polosnya, batinnya. “Lalu?”

“Lalu ada Kak Raven datang bersama teman-temannya, dan... dan... dia tersenyum, ke arahku. Oh, indahnya duniaa!”

Sebuah helaan napas terdengar dari mulut Sani. “Itu, sih, bukan tersenyum, tapi ngetawain.”

“Heh? Kenapa begitu? Dia jelas tersenyum. Atau jangan-jangan, kau iri yaa? Hm? Hm?” Ami memainkan kedua alisnya sambil tersenyum penuh arti ke arah sahabatnya.

“Iri? Untuk apa?” Sani berkelit, namun tak dapat dipungkiri bahwa ada warna merona di kedua pipinya. “Dengar ya, Ami, Kak Raven itu idola sekolah kita. Lihat saja potret hidupnya ke belakang! Mantannya saja se-abreg, cantik dan seksi pula. Mana mau dia melirik kita yang ingusan ini?” terdengar nada skeptis dalam suara serak milik Sani.

Ami terdiam merenung, “Benar juga,” ia menatap tubuhnya sendiri, lalu menghela napas berat, “Mana mau dia denganku.”

Sani sedikit iba dengan nasib prihatin sahabatnya, ia menepuk-nepuk pundak gadis itu, membagi ketenangan. “Dengar, suatu saat nanti akan ada pria yang lebih ba---“

“Tapi masih ada peluang!” Ami bersahut sendiri, sebuah senyum girang tergurat di wajahnya.

Sani mendengus pasrah, “Dasar keras kepala.”

“Ayo, kita menjadi seksi!!”

Wanita tua itu, sekali lagi, tersenyum menatap kepolosan yang menguar dari wajahnya dan wajah sahabatnya. Betapa ia rindu. Rindu yang gadis itu bawa hingga ke dalam tanah tempat peraduan terakhirnya, menemani senyapnya. Menggantikan dirinya.

Mata dengan kerutan di kulit sekitarnya itu pun beralih pada seorang pemuda ‘unik’ yang tengah duduk di rerumputan, dengan jari tangan telunjuk dan jempolnya membentuk semacam huruf ‘L’. Pose yang paling disukainya. Huruf ‘L’ itu ‘Liberal’, katanya. Ia memang mencintai kebebasan. Namun bukan kebebasan yang membutakan, tentunya.

“Si Jayus,” gumam wanita itu.

Terakhir, kedua matanya tertambat dengan sempurna kepada sosok seorang pemuda yang berdiri menyandar pada batang pohon dengan kedua lengan yang melipat di dada. Aura di sekitar wanita itu, seketika berubah muram secara gaib.

“Cowok sok keren,” desisnya.

Jika ia menatap wajah sahabat-sahabatnya yang terlukis di sana dengan senyuman, maka yang terjadi saat ia memandang pria dingin ini adalah sebaliknya. Ia membenci pria ini. Ralat! Sangat membencinya. Begitu dalam perasaan itu hingga membuatnya sesak.

“Cewek Barbar.”

“Apa kau bilang?!”

“Kubilang geser! Aku mau duduk.”

“Kau buta atau apa? Tempat ini masih luas, carilah tempat duduk yang lain.”

"Tidak mau,” pemuda itu masih bergeming di tempatnya, “Aku mau kamu yang geser.”

Si gadis menghembuskan napasnya kencang-kencang, menahan amarah, “Kalau aku tidak mau, kau mau apa?”

Gelas berisi jus di atas meja kantin itu tiba-tiba diangkat oleh tangan besar milik si pemuda, ditumpahkannya dengan tenang ke atas kepala gadis itu, “Mau ini.”

Terperanjat tubuh si gadis saat cairan amis itu meluruh dari atas kepala membasahi rambut dan pakaiannya. Ia berdiri menghentak dan menghadap si pemuda dengan telunjuk yang menuding-nuding wajah dinginnya, “KAU! Ren brengsek!”

“Dan kau, Ami Cewek Barbar,” balasnya dengan wajah dan nada suara sedatar penggaris.

Si gadis lantas menyambar sebuah gelas berisi moccacino, disiramkannya ke wajah yang memuakkan baginya itu. “Aku membencimu, Cowok Sok Keren.”

Ren terdiam merasakan mukanya basah bercampur lengket. Ditatapnya dalam-dalam kedua mata Ami yang balik memandangnya dengan sorot membunuh, lalu ia menyeringai, “Cewek Barbar menyebalkan.”

Ia mendengus keras-keras saat memori itu tiba-tiba saja berkelebat di otaknya, seperti semacam video yang terputar berulang-ulang, menyakitkan kepalanya. Sungguh! Pemuda menyebalkan itu selalu membuat hidupnya dipenuhi dengan agoni dan elegi tanpa berkesudahan.

Wanita tua itu masih ingat masa-masa ketika Ren gemar sekali mem-bully dirinya. Selalu saja begitu. Seakan dia adalah gadis yang enak dijadikan sasaran penindasan pemuda itu. Dia sangat membencinya. Ya, mungkin akan selamanya seperti itu, jika...

“Sayang,” suara bariton seorang pria memporak-parikkan fantasi liarnya. Ia menoleh, mendapati suaminya berdiri tak jauh dari dirinya. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Si wanita tua menyunggingkan senyum lembut sambil mengawasi pria itu mendudukkan bokongnya di sofa yang sama dengannya. Suara derit yang memilukan kembali terdengar, kewalahan menahan beban dua tubuh manusia. “Hanya sedikit bernostalgia,” tuturnya.

Sang suami memperhatikan lembar buku yang dipegang istrinya itu, masih sangat bagus meski telah meretas ruang dan masa. Ia terkekeh, menampilkan gigi-gigi yang tersusun rapi walau usia telah mencapai lebih dari setengah abad. “Dasar Cewek Barbar.”

Wanita tua itu menatap wajah suaminya dengan tatapan sinis yang dibuat-buat, “Kau mau memulai pertengkaran seperti dulu lagi, Cowok Sok Keren?”

Lagi, suara tawa melengking dari mulut pria itu. Lalu matanya tiba-tiba menemukan benda lain di kotak kaleng yang tergeletak di bawah kakinya. Diraihnya benda itu, “Kau masih menyimpan ini?”

Si istri memperhatikan benda yang disodorkan sang suami di depan wajahnya. Sebuah dasi merah yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menjelma menjadi bunga mawar yang indah. Tersungging seulas senyum di bibirnya, “Ya, untuk kenang-kenangan.”

Pria itu mau tak mau juga menyunggingkan senyum lembut. Dibelainya wajah tua namun tetap cantik milik istrinya itu menggunakan ‘bunga mawar merah’ di genggamannya. “Bukankah aku sudah mengganti ‘bunga’ ini dengan bunga melati seperti janjiku dulu?”

“Kau sedang apa di sini?”

Gadis itu menoleh, manik hitamnya berbenturan dengan sosok tinggi tegap milik seorang pria muda. Ia kembali memandang ke depan, ke langit biru yang dipenuhi awan yang berarak seolah menguasai cakrawala. Berdiam diri di atap sekolah memang membuat langit terasa lebih dekat, seakan batas atmosfir itu tiada. Laki-laki tersebut duduk di samping si gadis, bersama merasakan angin yang menampar-nampar wajah mereka dengan lembut.

“Acara perpisahan sekolah ini tidak seru. Aku bosan,” keluh sang gadis.

“Untuk ukuran cewek barbar sepertimu, mungkin hanya tawuran saja yang terasa seru.”

Ia cemberut, mendelik pria di sampingnya yang masih tenang menikmati desau angin. Diam-diam ia menatapnya. Mungkin sebentar lagi wajah dingin menyebalkan itu tak akan bisa muncul di retina matanya lagi. Ren akan terbang jauh. Meninggalkan segalanya di negeri ini menuju London. Meninggalkan dirinya.

Eh? Tunggu! Meninggalkan dirinya?

Ah! Dia hanya iri, mungkin. Hanya sebatas iri karena orang yang ia benci nyatanya sanggup berjalan jauh melampaui dirinya. Ren akan melanjutkan studinya ke London, dengan beasiswa di genggamannya.

Pria ini selalu menjadi enigma bagi dirinya. Ia tak tahu mengapa Ren selalu senang ‘menyiksa’ dirinya, mengapa akhir-akhir ini ia bersikap melembut padanya, membuatnya diam-diam merasakan ada yang bergetar di relung jiwanya.

Atau bagaimana perasaan laki-laki itu saat mengetahui bahwa ia akan pergi jauh.

Dua pasang mata itu tak sengaja secara bersamaan mendapati sesosok pemuda dengan seorang gadis di atas punggungnya. Mereka tampak sangat bahagia, seolah kiamat akan tiba sesaat lagi sehingga waktu yang tersisa digunakan untuk selalu bersama.

“Aku juga...” ucap Ren, masih tak mengalihkan pandangan dari dua sosok di bawah sana, “...ingin kau naik di punggungku seperti itu.”

Ami tampak tertegun. Sedikit banyak, ia insaf ke arah mana pembicaraan ini berlanjut. “Punggungmu terlalu dingin untuk kunaiki, dan terlalu keras untuk kurengkuh,” ada nada pilu yang berbaur dalam suaranya.

Ren menghela napas agak panjang. “Aku, belajar menjadi hangat dan lembut dari dirimu. Takkan kubiarkan guru berhargaku merasa kedinginan lagi karena sikapku.”

Gadis di sampingnya diam-diam tersipu dengan wajah bersemu. Ia menolak untuk menatap Ren, hingga tak menyadari bahwa ada rona tipis yang menghiasi wajah dingin itu.

“Maukah kau menungguku pulang dari London nanti?”

“Tidak mau,” tegas si gadis sambil memainkan ujung gaunnya malu-malu. Ekspresi pemuda di sampingnya sekilas menggambarkan kekecewaan dan putus asa, “Aku tidak mau menunggu lama, jadi cepatlah kembali.”

Ren terhenyak mendengarnya. Segurat senyum mampir di bibirnya. Senyum yang sarat akan kelegaan. Ia lalu melepas dasi merah yang dikenakannya, melipat dan membentuknya sehingga tercipta ‘bunga mawar merah’ yang cantik. Diselipkannya ‘bunga’ itu di telinga Ami. Diperhatikannya wajah manis itu lekat-lekat, dengan tatapan yang penuh berlumur kasih sayang.

“Simpanlah,” katanya dengan senyuman meneduhkan, membuat Ami sekejap menemukan cinta platonik yang bersemayam dalam senyuman itu, “Jika aku kembali, atas izin Tuhan, akan kuganti bunga itu dengan bunga melati di hari pernikahan kita.”

Pernahkah kuutarakan padamu, bahwa ada perasaan yang tidak bisa disampaikan lewat kata-kata?

Dengar, Dara, satu fakta tentang kejujuran.

Kata, tak mampu mewakilkan hati.  

Namun hanya hatilah, yang mampu mewakilkan kata.
.
.

“NENEEK! DAGINGNYA GOSONG!!”


By : Della Annissa Permatasari
Jamaluddin Djavu cerpen, cerpen cinta
Saturday, January 5, 2013

Far Away

Di bawah malam yang ditelan gelap pekat
di bawah terang sinar rembulan yang seolah mempermainkan
Hatiku meneriakkan sejuta pertanyaan

Kenapa?
Kenapa semua harus berubah?
Kenapa semua orang yang berharga dalam hidupku harus jauh dariku?

Jauh dari pandanganku
Jauh dari genggamanku
Semua orang berpaling padaku
Semua kawan berubah padaku
Semua……

Ya, semua……
Semua tinggalkan aku
Tak ada lagi senyuman untukku
Tak ada lagi tangan mereka untukku
Semua sirna……
Semua berubah……

Berlari aku sangat kencang menantang badai
Tembus segala kegelapan yang merantai
Untuk menggapai mereka lagi
Untuk miliki mereka lagi

Kurengkuh erat dalam dekapan sayang seorang sahabat
Tak pernah mau lepaskan lagi
Namun, kurasakan udara kosong yang ada dalam rengkuhanku

Bukan mereka……
Bukan sahabatku……
Yang kuberi rasa sayang,
dengan digantikan rasa perih hebat yang merasuk kalbu

Itu bukan mereka……
Itu bukan sahabatku……
Itu orang asing……
Yang selalu melontarkan senyuman dingin untukku,
bukan senyuman ramah
Yang selalu memberi tatapan sinis padaku,
bukan tatapan sayang

Bukan……
Itu orang lain……
Bukan teman-temanku……
Yang kini hanya sebuah memori,
dan akan selalu terukir indah dalam kepingan ingatanku……
……selamanya……

Dan……jika suatu saat nanti aku mati,
ku takut……takkan bisa menemukan keteduhan
senyum yang dulu itu……
di saat terakhir mataku terpejam
Tak akan pernah bisa……


By KuDheLL_CrisSuke


Jamaluddin Djavu puisi, Untaian Kata