Contoh Cerpen, Puisi dan Sastra

Saturday, March 31, 2012

Cerpen : Cakra Punarbhawa (Kisah Lima Penjelmaan)


AKU lahir. Gajahmada melepas jangkar. Melabuhkan armada tempur di pantai leluhurku. Malam biru. Seperti jubah laut masa lalu. AYAHKU nelayan tua bermata ungu. Suka bercengkerama dengan ikan, ombak, rasi biduk, dan perahu. Ibuku dayang istana, perayu ulung, penakluk muasal kata, penadah titah yang patah.

Suatu malam raja melepas lelah dalam rahim ibu. Aku terjaga. Aku benih, gabungan sudra dan ksatria, hanyut menggenangi gema genta pendeta. Aku putra jadah. Rasi bintang yang sendiri. Terbuang, tak diakui. Meski raja mencintaiku, namun takhta adalah utama, setelah titah. Ibu mengeluh. Aku pasrah. Maka, nelayan tua bermata ungu itu, kupanggil ayah.

Aku belia dalam kubangan janji-janji Gajahmada, sang penakluk terkutuk. Aku belajar memanah tangis. Menebas air mata. Raja merestuiku jadi laskar. Di garis depan aku bertempur. Demi leluhur, istana, dan raja-ayah yang dulu tak menghendakiku. Namun lacur, aku gugur. Seperti pokok jati yang rubuh di musim kering. Lambungku lebih mencintai tombak ketimbang ombak.

Ruh berputar. Cakra punarbhawa. Ratusan tahun kemudian, kembali aku menitis. Ibuku pelacur terhormat bagi serdadu bermata biru. Dipuja dan dimuliakan, lantaran pinggul bulat, payudara kelapa gading, dan suara merdu merayu. Bertahun kemudian ibu digilir lelaki kuning bermata sipit. Tak tahu aku, siapa sesungguhnya yang pantas kusebut ayah? Apa mungkin langit kupanggil ayah? Dalam tubuhku mengalir darah serakah penjajah. Akhirnya, ibu mati gantung diri, setelah lelah meladeni serdadu ke seribu, yang haus, ganas dan beringas.

Aku tumbuh menjadi penjudi, centeng pelabuhan, pemain perempuan, sekaligus mucikari bagi priayi. Hingga tiba suatu waktu, aku tersihir api revolusi yang menyembur dari mulut Soekarno. Seakan mengenang masa silam, kembali aku mengasah naluri tempur. Pin merah-putih di peci, sesuatu yang kubanggakan sebagai harga diri. Revolver di pinggang dan senapan di tangan. Aku memimpin pasukan menyerbu tangsi dan gudang senjata. Namun, seperti telah dinujumkan, aku gugur berselempang peluru musuh.

Ketika musim pembantaian tiba, aku mekar kembali dalam keluarga buruh tani. Usiaku sepuluh tahun saat ayah digorok dan dikuliti, persis di depan ibu. Darah ayah menghiasi wajah ngeri ibu. Aku tumbuh seperti pohon tanpa daun. Ibu gila dan menghuni rumah sakit jiwa, lalu mati dengan batin luka parah.
Aku menjadi juru warta, mengabarkan sengkarut negeri. Aku menjadi musuh tirani. Suatu malam, kelam gemetar di udara. Suara parau burung hantu membawa derap langkah sepatu lars. Kepalaku dibungkus kain hitam, dipaksa masuk kendaraan yang melaju entah ke mana.

Koran mengabarkan aku lenyap, tanpa jejak. Mereka tak tahu aku dipaksa menjadi penghuni liar kerajaan bawah laut. Aku belajar menyukai aroma garam yang menggelembungkan perut dan jiwaku. Menari bersama ubur-ubur, menyanyi bersama penyu hijau yang terusir, hiu kelabu, ganggang dan kerang. Dari suram bawah laut, ruhku berputar tak tahu arah.

Aku lahir kembali di lorong kumuh sebuah perkampungan kaum lanun, bromocorah, paria, begundal, sundal dan bajingan. Ayahku turunan perompak. Kakekku sahabat ombak. Suka mabuk. Pernah memerkosa perempuan bisu di geladak. Lalu lahirlah ayahku, pohon palam yang mencintai malam.
Ayahku raja pasar gelap. Penyelundup kayu. Juragan candu. Ketika aku bocah, ayah menguap. Jadi buron polisi dan preman. Ada kabar ia mati di comberan. Tubuh bugil, putih-pucat, dan penuh rajah. Ada tujuh lubang luka yang membiru di tubuh.

Aku dipelihara ibu, penari telanjang termasyhur. Paha bercahaya, payudara berkilau. Ibu mengajariku menenggak anggur bercampur abu ganja dan sedikit pil tidur. Ibu melatihku bercinta. Ketika mabuk aku diperkosa. Aku meronta, aku berontak. Ibu menjerit: "aku dahaga!" Ibuku itu bukanlah ibuku. Dia mengaku ibu tiri. Sebab dahaga purba, sukarela aku menjalin asmara dengan ibu tiriku.
O, di mana rahim hangat ibu yang melahirkanku?

Aku mengadu pada senja. O, Pantai Kuta, ke mana kau usir jukung-jukung nelayan? Mataku silau lampu-lampu hotel dan restoran. Seperti tukik, lahir dari kandungan pasir, aku merayap pada hamparan pasir. Ibuku pasir Pantai Kuta. Pada dadanya yang putih bersih aku menyusu. Belajar mencicipi air laut. Mencecap asin garam untuk kali pertama.

Di Pantai Kuta aku menjelma gigolo belia. Usiaku tujuh belas tahun ketika mereguk cinta pertama, seakan menyentuh batu mulia, pada mata jelita negeri salju. Rambut yang separuh pirang, menyisakan gerak bayang pada siang. Mata seteduh lautan, biru yang kurindu, yang memeram kelam topan.
Maka, cerita baru pun kubuka:

Di pantai aku merayu, seakan alpa akan duka masa lalu. Kubah langit jadi jingga. Biru laut mengental pada kerling matamu. Perahuku oleng, arus mabuk. Pasir masih sisakan lokan, bercampur uang kepeng bekas upacara dan tutup botol Coca Cola. Kau berlari kecil dan tertawa renyah ke arah senja yang melindap harap. Buih putih meraba mulus betismu yang ranum tangkai bunga leli. Seperti ibu yang setia, aku menunggu di rindang pohon ketapang. Memandangmu memainkan senja yang ragu dan gemetar meniti ombak liar. Seorang nenek renta bertopi caping memilin helai-helai rambut kusutku jadi beribu warna pelangi, yang melulu sepi.

Agak ragu kau membujuk, mengajakku menyulam malam dalam selimut kusam. Kau ingin aku bernalam, beralaskan tilam, berkisah perihal silsilah masa silam leluhurku, kawanan lanun yang kalah.
Malam melata. Dinding kamar samar. Lampu biru. Cahaya gagu. Kau menawariku anggur. Kita bersulang, untuk sesuatu yang mungkin hilang. Meski getir dan letih, aku telah berkisah. Kini, izinkan aku membajak lekuk tubuh pualammu, hingga baris-baris sajak lumer seperti roti kering tercelup cappucino hangat.

Upacara dimulai. Gaun kau simpan. Kita berdansa perlahan. Irama sunyi nyanyi serangga menghiasi malam. Setengah mabuk kita rebah di atas springbed, hamparan surga kelabu. Beringas kau menyerbu, melumatku tanpa sisa. Ada hangat yang leleh di pangkal paha. Cangkang kerang mengerang. Seribu pesona menganga. Kulit lembut teratai merah muda. Di muka gapura permata camar- camar memekik lirih, meluncur dari nganga bibirmu. Menghambur tak tentu arah. Sesat dalam lebat rimba bakau. Lalu bau kambium melunak. Aroma ganggang meregang, setelah getar terakhir pinggulmu, penakluk pertapa bisu yang menyepi di tengah teluk. Ada sedu sedan tertahan. Dan pantai pun menjerit manja saat ombak pasang menyatukan dua benua.

Lalu, igaumu menyusur malam, menjalar di atas kasur dingin. Uap garam pada kulit tembaga. Getar anggur di pangkal lidah. Sebutir pasir di ujung puting. Lekukmu seindah teluk yang selalu kelabu.
Usai upacara kecil itu, kau memaksaku keluyuran. Seperti pejalan-tidur, mengukur Jalan Legian yang bising, berisik, sesak, pikuk dan sibuk. Padahal aku telah nyaman melipat tubuh dalam selimut. Seperti janin dalam rahim hangat ibu.

"Come on, honey! The night is very nice!"

Setengah memaksa, setengah dipaksa, bagai bocah dungu aku mengikutimu. Sambil menyambar syal, selinting mariyuana kau nyalakan. Aku meraba bungkus kretek di saku jaket. Kau tertawa jenaka. Mata birumu menuju bintang, yang bingung berebut cahaya dengan kerlap-kerlip lampu pub.

Agak mengerak dalam benakku, waktu itu puncak malam Sabtu. Udara dingin Oktober, merembes membasahi arus darah. Namun, dalam pub itu, panas tubuh berbagi panas tubuh, tawa menyilang tawa. Piringan hitam melantunkan I Started A Joke, lagu terakhir yang kau pesan dari DJ berambuk ombak.
Mataku perih. Asap tembakau berbaur bau tubuh bule, mariyuana dan uap alkohol. Tiba-tiba saja aku terkenang aroma karbol. Di sudut remang, bibirmu meraba bibirku. Lidahmu yang panas- meski kau dari negeri salju-memberangus lidahku yang bau hujan tropis.

Sedetik kemudian, waktu tiba-tiba padam. Malam mendadak membara. Panas mengelupas mulus tubuhmu. Bagian tubuhku seperti memasuki liang tanpa cahaya, lubang penuh lendir. Aku gugup. Kau gemetar. Urat-urat darahmu coba meraba geletar asing yang mendedah ruh dan tubuh di ruang pengap kamar yang terbakar.

Terasa ringan, aku kapas diempas angin. Dari dalam udara, aku melihat tubuh-tubuh menyerpih. Ada bau daging gosong. Orang-orang bingung. Sirine ambulance ngeri, meraung tak henti.

Duhai, Ilahi, rahasia cakrawala terbuka sebelum waktu. Seperti lokan buta yang meraba dengan sungut, ruhku tertatih meraba kegelapan jalan terakhirku. Aku perlu peta, menyibak rute pelayaran, menyusuri gelombang pinggul yang bagai badai. Napasku tercekik belelai gurita raksasa, tepat saat jari-jari tanganmu ingin raih bulan di atas samudra.

Pada parak pagi, kutemukan tubuhku remuk di antara tumpukan puing dan abu. Bibirmu yang ranum menganga, menadah derita di atas basah aspal jalan. Seribu camar tak henti memekik dan berhamburan tak tahu arah.

Kemudian, hari, minggu, dan bulan. Sesuatu yang disebut waktu, bergelantungan di pucuk-pucuk pohon waru. Seorang gelandangan lusuh menyusur Jalan Legian. Aku terkesima! Gelandangan lusuh itu, aku sendiri!

Hanya baju-baju kaus pengabar duka, pamflet setengah hangus, seikat bunga layu, potret kekasih dan orang tercinta berjajar pada pagar seng kusam. Saling berebut perhatian, tertuju pada semua penjuru mata.

Mungkin pernah seorang relawan menemukan biji mata biru pada sisa abu. Pinggul setengah matang. Atau mungkin gema tangis dari sisa puing. Mengambang dalam malam bergerimis. Uap alkohol bercampur sisa embun.

Kukenang bayangmu. Sebentuk bibir yang sia-sia menempel di kaca jendela diskotek. Ada bekas ganggang biru dan sedikit sengat ubur-ubur pada gambar naga di lengan kanan. Sisa garam pada rambut yang separuh hangus. Betis mulus yang terkelupas seperti mangga matang, yang pernah memukau lanun, membajak gelinjang yang terus meradang, mengerang, menggasing dalam putaran sembilan bulan. Seperti kekunang tersihir cahaya gemintang.

Tak ada lagi mantra penolak bala atau sesaji penenang ruh. Pun karangan bunga muram. Mungkin hanya sebutir aspirin, jarum suntik dan lima linting mariyuana, teronggok di sudut kamar kusam.
KAUKAH ruh, asal segala keluh dan jenuh? Atau aku noktah yang akan terhapus dari kenangan. Atau aku ruh, yang berkisah perihal waktu, yang menumbukku jadi debu?

Kau beri aku kembara tanpa dangau kekal. Aku ulang-alik, berpindah dari satu tubuh ke lain tubuh. Seperti burung-burung yang diusir musim dingin. Pintu rahim siapa mesti kuketuk lagi, demi ruh yang tak henti mengembara. Aku letih menyusuri garis edarku sendiri. Aku bukan matahari, bukan bulan, bukan bumi. Aku noktah pada hamparan semestaMu. Bila aku mengakui adaMu, apa harus aku mempercayaiMu?

Bila Kau titiskan aku lagi, beri aku sebilah kelewang berkilau dan kuda putih. Aku hanya sudi menjelma ketika usia bumi merapat tua. Itulah akhir titahMu, akhir kembaraku. Itulah saat aku mengukur umurku sendiri, mengumpulkan remah-remah karma.

Atau titiskan aku lagi 666 tahun kemudian, ketika bumi menjadi lapisan es. Aku akan menjelma ikan-ikan cahaya, yang menghuni lubuk paling kelam dari samudra membeku, dari jiwa paling kelabu. Dan Kau? Kau membeku dalam istanaMu!

Kuta-Denpasar, 2003

Cerpen by : Sunarta, Wayan
Sumber: Kompas, Edisi 12/14/2003
Sastra Indonesia cerpen
Friday, March 30, 2012

Cerpen : Cinta Kedua


Aku menikah dengannya, pria yang usianya sepuluh tahun lebih tua dariku. Saat itu statusnya sudah pernah menikah alias duda cerai. Dia punya satu anak dari perkawinannya yang terdahulu.
Sewaktu aku memutuskan untuk menikah dengannya, atas dasar cinta tentunya, orang-orang disekelilingku tak percaya. Tapi keputusanku sudah bulat, tak ada yang bisa menawarnya.

"Kamu cari masalah,"kata Ari teman sekantorku.
"Cari masalah? Apa maksudmu?" tanyaku.
"Jangan enak-enakan menikah dengan seorang duda. Jangan enak-enakan menjadi cinta kedua. Kamu mesti siap untuk dibayang-bayangin oleh mantan isterinya, Apa lagi mantan isterinya belum juga menikah, mereka punya anak lagi. Nggak ada lho yang namanya bekas anak, anak ya anak.Tarolah sekarang mantan isterinya tidak mempermasalahkan hak pengasuhan atas anaknya. Tapi nanti saat ia datang kembali bisa jadi dia menuntut hak asuh atas anaknya. Semulah hak asuh atas anaknya, kemudian hak asuh atas mantan suaminya ....," Ari mengutarakan argumentasinya. Tapi aku tak ingin mendengarnya. Lagi pula, mana ada tuntutan hak asuh atas mantan suami. Ada-ada saja.

Maka menikahlah kami. Pada bulan-bulan pertama sampai tahun pertama tak ada masalah yang berarti. Kalaupun ada itu hanya perselisihan kecil yang dapat segera diselesaikan. Rumah tangga yang normal, sama halnya dengan rumah tangga lain pada umumnya.

Hubunganku dengan Bimo, anaknya, juga baik-baik saja. Bahkan aku sangat menyayanginya. Bimo pun juga sayang dan sangat manja kepadaku. Mungkin karena aku belum juga hamil sampai pada tahun pertama pernikahan kami. Maka perhatianku sangat besar terhadap bocah kecil itu. Dan pada dasarnya aku memang sangat menyukai anak-anak.

Tak lama kemudian, aku mendengar berita bahwa mantan isteri suamiku itu pulang ke kotanya. Dia masih sendiri, belum menikah lagi. Dan rupanya ia tidak diberi tahu bahwa mantan suaminya telah menikah, ia juga belum tahu kalau anaknya tinggal bersama kami. Wanita itu benar-benar marah. Dini, adik iparku, menelfon memberitahukanku. Agar aku siap jika kehilangan Bimo. Menurutnya, saat wanita itu diberi tahu tentang pernikahan mantan suaminya, dan juga tentang anaknya, ia berniat segera menyusul untuk menjemput anaknya.

"Aku beritahukan ini agar mbak Ning tidak terlalu shock nantinya," begitu katanya.
Hatiku gelisah, perasaanku tertekan, aku takut kehilangan Bimo. Aku telah jatuh hati pada bocah itu. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tak memiliki hak.

Aku bisa sedikit merasa tenang, karena wanita itu tidak segera datang ke rumah kami untuk menjemput Bimo. Itu artinya aku masih punya waktu lebih lama untuk tinggal bersamanya. Bocah balita yang mewarisi tujuh pululh persen diri suamiku, foto suamiku.

Sejak itu, telepon di rumah sering berdering. Mereka biasanya dari keluarga mantan isteri suamiku. Seperti yang terjadi malam itu. Suamiku berbicara berjam-jam di telepon. Tak biasanya dia seperti itu. Sepertinya ada sesuatu yang serius, dibalik percakapannya.

Usai menerima telepon, aku bisa melihat kekusutan di wajahnya. Ia duduk disampingku di depan televisi, seolah ada yang hendak dikatakannya. Aku menunggu kata-kata darinya cukup lama, tapi dia tak juga berbicara. Ketka aku bermaksud untuk beranjak ke kamar, ia menahan tanganku.

"Ning, besok aku dan Bimo akan pulang," katanya dengan menyebutkan nama kota tempat mertuaku dan juga mantan isterinya tinggal.
"Berapa hari?" tanyaku.
"Aku langsung pulang, nggak akan bermalam," sahutnya tanpa melihat ke arahku.
"Bagaimana dengan Bimo? Kalau langsung pulang, ia akan kecapekan. Kasihan dia," kataku.
"Biar Bimo tinggal barang beberapa hari di sana," katanya tanpa memberitahuku bahwa ada ibu Bimo di sana. Seolah dia tak perlu memberitahuku tentang kedatangan mantan isterinya. Mungkin dia tak ingin menyakitiku, tak ingin membuat aku cemburu. Atau mungkin yang terbaik baginya adalah dengan tidak mengatakannya padaku.

Keesokan paginya, mereka pun berangkat. Aku antar mereka sampai pintu pagar, dengan rasa khawatir dan cemburu yang tak mungkin kutunjukkan. Kulepas mereka dengan do’a "Tuhan, kembalikan mereka padaku..."

Ternyata suamiku tak bisa langsung pulang sperti yang dikatakannya. Dia menelponku, dia bilang bahwa ada beberapa hal yang harus diselesaikannya. Aku coba untuk mengerti, walau ada ketakutan yang tak bisa diceritakan. Kuhibur diriku dengan mengatakan pada hatiku bahwa pertemuan mereka adalah takdir, yang tak bisa dihindari. Apa pun yang terjadi adalah kehendak-Nya. Aku mencoba untuk pasrah.
Hingga akhir kisah yang kudapat dan yang harus kuterima dengan lapang dada. Adalah pada kenyataannya, cinta kedua tak bisa menuntut perolehan kadar cinta yang sebanding dengan cinta yang pertama. Cinta suamiku yang cenderung mendua, tak bisa jujur padaku bahwa cinta pertamanya terlalu besar dan kuat dibanding cintanya terhadapku.

Tuhan tak mengembalikan mereka dalam pelukanku. Tuhan hanya meminjamkan mereka untukku. Walai hanya sebentar, tapi memori tentang mereka terus hidup dalam hatiku. Aku tak hendak menghancurkan kenangan itu.

Walau hatiku sedang diterkam duka, sesungguhnya aku tak sedang mengadu. Karena ada kenikmatan dalam kehancuran hatiku, yaitu saat aku memikirkan mereka, merindukan dan mengharapkan kehadiran mereka.

Andai aku bisa mengendalikan kejap mataku, tak ingin kubuka kecuali melihat mereka berdua bersamaku.

Cerpen by : Hilda W.
Sastra Indonesia cerpen
Wednesday, March 28, 2012

Cerpen : Bisikan Aneh

Jangan lupakan aku. Kabari aku jika kau sudah sampai di sana, begitu katamu ketika melepaskan kepergianku. Namun, pada saat yang bersamaan, perasaan ini berkata lain. Ada sesuatu yang tiba-tiba melintas, dan dengan caranya yang aneh pula dia mengatakan bahwa yang akan terjadi adalah sebaliknya. Oleh karenanya, mungkin jika kau memperhatikan tatapan mataku, atau mimik yang tergambar di raut wajahku, kau akan tahu bahwa aku meragukan setiap kata yang kau ucapkan kepadaku.

Tetapi, itulah. Aku sendiri tak tahu lagi kepada siapa aku menaruh kepercayaan. Dusta itu sudah terlalu sering menghujaniku. Kebohongan rasanya seperti genting pada setiap rumah, atau jendela dengan kaca-kaca timah menorehkan warna-warninya di kehidupanku. Sehingga, jangan heran jika pada akhirnya aku pun mendiamkan saja apa yang terjadi pada diriku. Toh, akhirnya kau berbohong kepadaku.

"Jangan lupa, ya.." Itu ucapanmu sambil melemparkan senyum dari bibir yang biasa kau berikan padaku untuk kulumatkan di malam-malam kita tempo hari.

Ah, sandiwara apa lagi yang tengah kau mainkan, manisku? Bahkan ketika kukatakan bahwa kepergianku ini untuk sesuatu yang penting bagi kita, dan kau menunjukkan keberatan karena lamanya kita berpisah, aku sudah tahu bahwa itu hanya pura-pura saja. Kepura-puraan seutas tali layang-layang, yang kau tarik seolah menurunkan, yang sesungguhnya membuat terbangnya kian tinggi. Aku tahu, sayangku, aku tahu.

Maka, ketika pesawat ini mendarat dan aku melanjutkan perjalanan dengan landrover, mendaki dan menjelajahi tanah tak ramah, aku pun kian tergelak-gelak oleh sandiwara yang kau mainkan. Tidak, kau tidak bermain, tetapi menyutradari lakonku. Aha, kau menjadi sutradaranya!

Aku tahu kau tengah menimbang-nimbang dan menggores-goreskan naskah yang kau edit sendiri, dan mengarahkan langkahku untuk menemui kegagalan itu. Kau pikir aku tak tahu apa yang kucari? Kau pikir aku tak tahu siapa yang akan kutemui? Meskipun ketika kukatakan bahwa aku sendiri tak yakin benar akan apa yang akan kucari ini, dan kau mencegahku --ah, betapa manisnya adegan itu-- aku tahu bahwa sebetulnya kau tengah berdoa agar aku cepat-cepat pergi dan menjumpai bibir jurang kehampaan yang menganga.

"Sudah lama kenal sama Mahmud?" Tiba-tiba orang yang menjemputku bicara. Aku tak percaya manusia besi ini bisa bicara. Sejak kedatangannya di bandara, dan setelah hampir tiga jam dia bersamaku, baru ini yang diucapkannya.

Kau tahu, sayangku, caranya bicara menunjukkan bahwa apa yang diucapkannya hanyalah sebuah basa-basi, pemerah bibir. Dia tak punya kepentingan apa-apa denganku, karenanya dia bertanya tentang sesuatu yang tak berkaitan dengan urusannya. Bayangkan, jika saja kujawab "sudah", lantas dia mau bilang apa? Atau misalnya aku berdusta dengan mengatakan "belum", kira-kira apa yang akan dijadikannya pertanyaan berikutnya? Tak ada. Persis seperti caramu menghadapiku. Semuanya basa-basi.

"Sudah."
"O...berapa lama?"
Nah, apa kataku. Dia hanya mencoba berbasa-basi lagi.
"Sepuluh tahun…," jawabku asal saja.
"Teman kuliah?"
"Bukan."
"Teman kerja?"
"Bukan."
Nah, betul, kan, kataku, dia tak bisa menyambung dengan kata-kata lagi. Itu semua karena dia hanya berbasa-basi.
"Kita akan sampai di ibukota kecamatan kira-kira dua jam lagi. Dan karena di dalam dua jam itu saya khawatir kita tidak menemukan kedai atau apa pun, sebaiknya kita mampir dulu di pasar ini. Sekalian kita cari pompa bensin."
"O...bagaimana mungkin dalam dua jam perjalanan kita tidak bisa menemukan warung, atau kedai makanan?"
"…?"

Dia hanya menatapku dengan bingung. Otaknya tak cukup cerdas mencari sebuah kalimat yang bisa membuatku paham. Lalu, sambil menengok ke kanan dan ke kiri, mencari warung, dia kembali tenggelam dalam kebisuannya.

***

Selama menunggu makanan di kedai, aku membayangkan serbuk racun ditaburkan di makanan yang akan kumakan. Ah, jangan kau pura-pura, sayangku, dia adalah orang suruhanmu. Jangan menyangkal, aku tahu. Engkau ingin tahu bagaimana aku bisa tahu? Haha…untuk apa? Membuktikan bahwa kau adalah seorang juru catat yang andal? Dia dengan mudahnya menyuruh si pemilik warung untuk menaburkan sejenis sianida atau racun apalah namanya, ke dalam makananku.

"Saya belum lapar..."
Dan lihatlah wajahnya yang tolol itu.
"Saya sudah pesan 2 piring dan Anda setuju kita makan dulu. Kenapa tiba-tiba merasa belum lapar?"
"Maaf, ini perut saya. Sayalah yang paling tahu kondisinya."
"Hmm…tapi kita harus bayar 2 piring."
"Tak masalah. Saya akan bayar. Kalau mau, silakan makan punya saya..."
Piring dan lauk dihidangkan. Ikan bakar, sambal dan lalapan.
Dia makan dengan lahapnya. Aku hanya mengamatinya saja. Dia terlalu lahap, dan betul-betul menikmati nasi hangat dan ikan bakar itu.
"Jadi, nggak makan?"
Aku menggeleng.
"Sayang kalau dibuang. Saya makan, ya?" Dan dia langsung mengambil jatahku.
Dan kembali dia melahap habis nasiku, laukku dan lalapanku. Dia minum dengan tegukan besar dan mengeluarkan sendawa besar. Sungguh edan!
Kuamati perubahan di wajahnya. Sebentar lagi, ya, sebentar lagi dia akan...

***
Aneh. Si besi ini tak mati-mati juga, padahal, menurut dugaanku, piringku pasti beracun dan...mungkin aku salah. Landrover menderum lagi membelah malam. Dia menyalakan rokok dan menikmati laju kendaraan dengan seenak perutnya. Sementara itu aku terayun-ayun dan merasakan kantuk mengganduli mataku. Tidak, tak mungkin aku tertidur, sementara kaki-tanganmu siap menikamku. Ini juga bagian sandiwaramu, bukan?

Tiba-tiba mobil berdecit, membelok dan berhenti. "Maaf, perut saya..." dia lari ke semak-semak sambil membawa sebotol air. "Kebanyakan sambal," teriaknya sebelum menghilang di semak-semak.
Bukan kebanyakan sambal, tapi sianidamu mulai bekerja. Bagaimana mungkin dia yang menyuruh menaburkan bubuk racun itu kemudian memakannya? Apakah dia ingin meyakinkan aku bahwa... ah, sandiwara terlucu yang pernah kusaksikan.

Mesin menyala, lampunya mengarah ke semak-semak. Sialan, aku disuruh menyaksikan dan menunggui pembunuhku buang air! Kampret! Aku sungguh tak mengerti jalan pikiranmu. Kita sebentar lagi akan menikah, dan dalam pernikahan itu, kujamin bahwa diriku akan bisa membuatmu menjadi wanita terhormat, ibu dari anak-anakku. Yang aku tak mengerti, mengapa kau sudah... ah, itu yang aku tak paham. Apa sebetulnya motivasimu?

***
Dan Mahmud itu, nama yang kau sebut-sebut sebagai kawan yang mungkin bisa membantuku itu, bukankah dia kekasih gelapmu? Jangan kau sangkal dan membalikkan kenyataan itu sebagai bentuk kecemburuanku padamu. Jika bukan kekasih gelapmu, mana mungkin kau secara cepat memberikan nama itu kepadaku?

Apalagi, rumahnya jauh dari rumah kita. Bayangkan, aku harus berpesawat, lalu naik landrover ini berjam-jam, baru bisa menemukannya. Aku curiga, jangan-jangan kau telah bersekongkol dengan Mahmud. Dan manusia besi yang sekarang sedang berjuang keras di balik semak-semak itu, tentunya adalah kaki-tangan Mahmud juga.

Tetapi, mengapa?

Aku sendiri meragukan apakah yang kucari ini akan kutemukan atau tidak. Tetapi, ketika kukatakan kepadamu, tempo hari itu, aku jadi curiga. Jangan-jangan, sikapmu, ucapanmu, bahkan tangisanmu, sebetulnya adalah taktikmu saja agar aku meragukan kepergianku. Itu sebabnya, aku justru ingin pergi dan mencarinya. Seandainya saja, engkau tidak keberatan dan mempersilakan aku pergi, mungkin aku malah tak pergi.

Tetapi karena kau merengek agar tak kutinggalkan, entahlah, keinginanku untuk pergi rasanya kian menggebu.
Sungguh aku tidak mengerti sikapmu.
"Wah, lega rasanya, bisa..." Dan dia mengakhiri kalimatnya dengan ekspresi puas, diulas senyum lebar.
Sungguh tak sopan manusia satu ini. Selesai buang hajat malah pamer!

***
Perjalanan berlanjut. Hanya bunyi mesin yang kudengar. Jalan berkelok-kelok, mendaki, menurun, bergelombang. Belum mati juga, dia.

"Merokok?"
"Terima kasih. Kata orang merokok bisa memendekkan umur," jawabku berusaha ketus. Maksudku agar dia mengerti bahwa sebetulnya aku keberatan kalau dia merokok.
Ajaib dia malah tertawa terbahak-bahak.
"Hebat benar, Tuhan bisa dikalahkan oleh rokok..." dan gelak tawanya kian nyaring di malam sunyi ini.
Sinting, dia membawa-bawa nama Tuhan demi sebatang rokok sialan itu.
"Anak saya lima. Yang besar sudah SMA, Mas?"
Ampun, siapa yang mau tahu keluarganya? Mau punya anak selusin pun, aku tak peduli. "Belum kawin…," jawabku lesu.
"Lho, saya pikir Mas ini suaminya Mbak Desy?"

Nah, nah…bagaimana mungkin dia tahu namamu? Bukankah kau pun tak mengenalnya? Bagaimana mungkin dia tahu bahwa namamu Desy dan aku adalah pasanganmu? Jika bukan ada apa-apanya, tentu tak mungkin dia tahu banyak tentang kita.

"Pak Mahmud bilang bahwa Mas ini suaminya Mbak Desy. Jadi, bukan? Maksud saya, belum menikah?" Dia pun terbahak lagi.

Lihatlah, Des, lihat… ah, seandainya saja kau bisa menyaksikan bagaimana laki-laki besi ini tertawa geli. Dia mengejekku. Dia menertawakanku. Bukankah ini sebetulnya maksudmu "melemparkan"-ku kemari? Agar aku jadi bahan tertawaan orang lain? Oh, Desy, Desy... aku semakin tak mengerti mengapa kau menyukai cara-cara aneh untuk menghina calon suamimu sendiri?

"Mumpung masih muda, kawinlah Mas. Maaf usia Mas berapa?"
Hmmm! Mau apa dia tanya-tanya umurku? "Empat puluh."

Dia diam. Kurasa dia tak percaya atau angka empat puluh merupakan angka keramat baginya. Dan, Desy, inikah caramu agar aku dicerca oleh orang lain? Bukankah sudah menjadi keputusanmu bahwa selisih usia kita yang nyaris dua puluh tahun ini bukan soal untuk berumah tangga? Lalu, mengapa kau selalu menggiringku ke dalam bubu jebakan, agar setiap orang mempertanyakan masalah usia kita?
Apa rencanamu sebetulnya di balik ini semua?

***
Jam 11 malam landrover berhenti di depan sebuah rumah panggung. Sunyi dan gelap mengepung. Untunglah bulan masih mau membagi sinarnya. Bulan tanggal berapa sekarang, mengapa belum bulat penuh? Mungkin, karena mendengar derum mobil, si tuan rumah membuka pintu. Seorang laki-laki besar, bercelana jins berkaos hitam, tegak di ambang pintu. Cahaya menyeruak menginginkan kebebasan.

"Belum tidur, rupanya, Pak Mahmud…"
"Itu Mahmud?" namun aku segera sadar bahwa tadi aku mengaku mengenalnya selama 10 tahun. Dia tentunya --seharusnya curiga dengan ucapanku. Tapi, ah, si bodoh ini hanya diam saja. Mungkin dia mengantuk atau tak peduli.

Dia turun tangga menyambutku. Hangat. Genggaman tangannya kuat sekali dan sebaris gigi besarnya menyeringai. Bahagia betul dia menemukan korbannya!
"Kenapa lama sekali, Din?" ucapnya di sela-sela senyumnya.
"Maaf Pak, tadi…" Si Din menepuk-nepuk perutnya sendiri sambil meringis. Mahmud tergelak.

***
Paginya, aku terbangun dengan badan dirajam lelah. Maklumlah, semalam aku tak makan dan langsung tertidur, begitu Mahmud membukakan kamar untukku. Kubuka jendela kayu dan… Tuhanku, engkau pasti tersenyum ketika menciptakan alam ini. Gunung-gunung berlapis-lapis, berkelambu kabut yang membuatnya kian menipis. Bebukitan menggunduk di sana-sini, menyembul di antara padang rumput, pepohonan dan bebatuan besar. Dan di leher-leher bukit itu, kabut tipis melayang perlahan, layaknya kain panjang seorang jelita putri di negeri dongeng. Kuda-kuda merumput tenang, bersama sapi dan kambing. Di manakah aku saat ini? Belum pernah kusaksikan keramahan yang menyejukkan jiwa, seperti di tempat ini.

"Mari sarapan dulu, istri saya sudah menyiapkan." Tiba-tiba suara yang kukenali membuatku tersadar dan melihat arloji. Jam sembilan!
"Mmm… ini waktu Indonesia Bagian Tengah. Jamnya pasti belum disesuaikan."
"Oh...," berarti aku harus mengubahnya menjadi jam sepuluh! Astaga, aku terbangun jam sepuluh! Berarti lelap sekali tidurku.

Sambil makan, Mahmud berkata tentang sesuatu yang akan kucari itu. Memang, dia bilang bahwa kayu itu tumbuh hanya di daerah ini, namun tidak semua orang bisa mencarinya. "Adanya di hutan dan hanya orang tertentu yang bisa menemukannya."

Aku berhenti menyuap. Gagal sudah harapanku.

"Untuk apa, sih, Mbak Desy mencari kayu itu?"
"Mmm... ini memang permintaan paling aneh.. Katanya untuk persyaratan mas kawin…"
Tanpa kuduga, Mahmud tertawa. Suaranya lantang memenuhi ruang-ruang di rumahnya. Sesaat dia tersedak. Minum. Lalu melanjutkan gelak tawanya lagi.
"Ya, ya... saya mengerti. Itu permintaan aneh, dan lebih aneh lagi, saya menurutinya. Saya harus ambil cuti dan…di sini ditertawakan orang," ucapku putus asa.

Mahmud berhenti tertawa tiba-tiba. "Oh, maaf, maaf…saya tidak menertawakan Mas. Saya hanya tak menyangka bahwa kayu itu begitu berharga bagi orang Jakarta. Itu saja. Jangan khawatir, saya akan membantu mencarikannya, jika memang sepenting itu." Dia lalu mengangkat HP-nya. Gila. Di lambung gunung seperti ini, HP-nya masih berfungsi.
Aku terdiam. Siapakah engkau, Mahmud?

***
Aku tiba-tiba diserang hawa aneh yang membuatku berubah pikiran. Ucapan Mahmud yang sungguh-sungguh itu membuatku berpikir tentang semua yang tengah kulakukan ini. Aku yang semula percaya padamu, Des, tentang syarat yang kau ajukan itu, dan itu kubuktikan dengan kesungguhanku berangkat, tiba-tiba menjadi ragu, karena setelah kupikir, mungkin ini hanya alasan penolakanmu atas lamaranku. Namun, ketika kau pun agaknya meragukan permintaanmu sendiri, sementara aku jadi kian menggebu berangkat, aku mulai bimbang dengan semua ucapanmu. Dan ketika sesampai di tempat ini, bicara dengan Mahmud, aku...ah, entahlah.

Bagaimana jika kayu itu memang kutemukan? Aneh. Gila. Nonsense.

"Ada, Mas."
"Apanya?"
"Kayunya. Mau seberapa panjang?"
Aku terdiam. Terus terang, aku tak punya kesiapan untuk itu.
"Kalau mau dimasukkan tas, ya, paling-paling 50 cm cukup,kan ?"
Aku masih diam. Jadi, kayu itu memang ada dan bisa kumasukkan tasku. Ah, gila. Terus, aku harus bagaimana? Setelah kayu itu ada di tanganku dan itu mencukupi syarat perkawinan kita, Desy? Aku harus bagaimana?

"Maaf, tapi permintaan Mbak Desy memang agak langka. Soalnya, biasanya yang minta kayu itu adalah seorang dukun." ujar Mahmud sambil tersenyum, dan tangannya mencolek ikan goreng.
Dukun? Ah, skenario apalagi yang kau kembangkan untuk lakon kita, Desy?

Ahh, aku tak tahu lagi, apakah setelah berjam-jam waktuku hilang di jalan, dengan berbagai rajaman pikiran meninggalkanmu, cutiku yang terbuang sia-sia, dan kayu yang memang ada itu, kemudian..."dukun"? Aku tak tahu lagi apakah aku masih punya sisa tenaga untuk mengawinimu, Des? Terus terang aku lelah mendengar bisik-bisik yang selalu menggaung di kepalaku ini. Aku ingin berhenti. Aku ingin agar bisikan itu berhenti dan aku bisa lebih tenang menjalani sisa lakonku sendiri.

***
Pinang, 982

Cerpen by : Yanusa Nugroho
Sumber: Jawa Pos, Edisi 08/21/2005 
Sastra Indonesia cerpen

Sepatah Kata : Berpikirlah saat orang lain merenung.

Berpikirlah saat orang lain merenung.

Berbuatlah saat orang lain berpikir.

Bertindaklah saat orang lain terlena dalam mimpi indahnya.

Sastra Indonesia kata-kata mutiara

Sepatah Kata : Khalil Gibran




Berbahagialah setiap insan yang dianugerahi cinta,
karena tidak setiap insan mendapatkan cinta.
Itulah kehebatan mahadaya cinta yang selalu hadir
dan memberikan keharuman romantisme dalam hati setiap insan.
(Kahlil Gibran)
Sastra Indonesia kata-kata mutiara

Sepatah Kata : Apakah kamu mengerti siapa orang yang benar-benar sayang padamu?


Apakah kamu mengerti siapa orang yang benar-benar  sayang padamu?
Bukan orang yang sekedar tahu tentang apa yang kamu suka dan apa yang kamu benci,
Tapi orang yang mengerti apa yang terbaik untukmu.
Bukan orang yang sengaja perhatian padamu,
Tapi orang yang selalu mengerti keadaanmu.
Bukan orang yang ingin memilikimu,
Tapi orang yang rela kehilanganmu demi kebahagiaanmu.
Bukan orang yang berani menyentuhmu,
Tapi orang yang merasa kamu terlalu suci tuk disentuh.
Bukan orang yang suka dengan keindahan yang ada pada dirimu,
Tapi orang yang mau menerimamu apa adanya.
Sastra Indonesia kata-kata mutiara

Kata-Kata Mutiara Indah : Apa itu cinta?



Apa itu cinta?
Kata ayah…
Cinta itu seperti sepak bola, perlu usaha keras untuk memperoleh angka kemenangan.
Kata ibu…
Cinta itu seperti bayi, harus dijaga dengan sepenuh hati.
Kata kakak…
Cinta itu seperti idola, ingin qta ketahui semua tentangnya.
Kata adik…
Cinta itu seperti mainan kesayangan, kalau hilang pasti menangis.

Sastra Indonesia kata-kata mutiara

Puisi : TENTANG KEMERDEKAAN


Oleh :
Toto Sudarto Bahtiar



 
 
Kemerdekaan ialah tanah air dan laut semua suara
janganlah takut kepadanya
Kemerdekaan ialah tanah air penyair dan pengembara
janganlah takut padanya
Kemerdekaan ialah cinta salih yang mesra
Bawalah daku kepadanya
 
 
Zaman Baru,
No. 11- 12
20 - 30 Agustus 1957


Sastra Indonesia puisi, Toto Sudarto Bachtiar

Puisi : PAHLAWAN TAK DIKENAL


Oleh :
Toto Sudarto Bahtiar



 
 
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda
Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda
(1955)
Siasat,
Th IX, No. 442
1955
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

Sastra Indonesia puisi, Toto Sudarto Bachtiar

Puisi : ODE I


Oleh :
Toto Sudarto Bahtiar

 
 
 
 
 
katanya, kalau sekarang aku harus berangkat
kuberi pacarku peluk penghabisan yang berat
aku besok bisa mati, kemudian diam-diam
aku mengendap di balik sendat kemerdekaan dan malam
malam begini beku, dimanakah tempat terindah
buat hatiku yang terulur padamu megap dan megah
O, tanah
tanahku yang baru terjaga
malam begini sepi dimanakah tempat yang terbaik
buat peluru pistol di balik baju cabik
0, tanah di mana mesra terpendm rindu
kemerdekaan yang mengembara kemana saja
ingin aku menyanyi kecil, tahu betapa tersandarnya
engkau pada pilar derita, megah napasku di gang tua
menuju kubu musuh di kota sana
aku tak sempat hitung langkahku bagi jarak
mungkin pacarku kan berpaling
dari wajahku yang terpaku pada dinding
tapi jam tua, betapa pelan detiknya kudengar juga
di tengah malam yang begini beku
teringat betapa pernyataan sangat tebalnya
coretan-coretan merah pada tembok tua
betapa lemahnya jari untuk memetik bedil
membesarkan hatimu yang baru terjaga
Kalau serang aku harus ergi, aku hanya tahu
kawan-kawanku akan terus maju
tak berpaling dari kenangan pada dinding
O, tanah dimana tempat yang terbaik buat hati dan hidupku
 
Kisah,
Th IV, No. 10
Oktober 1956

Sastra Indonesia puisi, Toto Sudarto Bachtiar

Puisi : ODE II


Oleh :
Toto Sudarto Bahtiar

  
  
 
dengar, hari ini ialah hari hati yang memanggil
dan derap langkah yang berat maju ke satu tempat
dengar, hari ini ialah hari hati yang memanggil
dan kegairahan hidup yang harus jadi dekat
berhenti menangis, air mata kali ini hanya buat si tua renta
atau menangis sedikit saja
buat sumpah yangtergores pada dinding-dinding
yang sudah jadi kuning dan jiwa-jiwa yang sudah mati
atau buat apa saja yang dicintai dan gagal
atau buat apa saja
yang sampai kepadamu waktu kau tak merenung
dan menampak jalan yang masih panjang
dengar, hari ini ialah hari hatiku yangmemanggil
mata-mata yang berat mengandung suasana
membersit tanya pada omong-omong orang lalu
mengenangkan segenap janji yang dengan diri kita menyatu
dengarlah, o, tanah di mana segala cinta merekamkan dirinya
tempat terbaik buat dia
ialah hatimu yang kian merah memagutnya
kala hdia terbaring di makam senyap pangkuanmu *
*kenangan buat matinya seorang pejuang
 
Kisah
Th IV, No. 10
Oktober 1956

Sastra Indonesia puisi, Toto Sudarto Bachtiar

Puisi : IBU KOTA SENJA



Oleh :
Toto Sudarto Bachtiar


 
Penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari
Antara kuli-kuli berdaki dan perempuan telanjang mandi
Di sungai kesayangan, o, kota kekasih
Klakson oto dan lonceng trem saing-menyaingi
Udara menekan berat di atas jalan panjang berkelokan
Gedung-gedung dan kepala mengabur dalam senja
Mengarungi dan layung-layung membara di langit barat daya
0, kota kekasih
Tekankan aku pada pusat hatimu
Di tengah-tengah kesibukanmu dan penderitaanmu
Aku seperti mimpi, bulan putih di lautan awan belia
Sumber-sumber yang murni terpendam
Senantiasa diselaputi bumi keabuan
Dan tangan serta kata menahan napas lepas bebas
Menunggu waktu mengangkut maut
Aku tiada tahu apa-apa, di luar yang sederhana
Nyanyian-nyanyian kesenduan yang bercanda kesedihan
Menunggu waktu keteduhan terlanggar di pintu dinihari
Serta keabadian mimpi-mimpi manusia
Klakson dan lonceng bunyi bergiliran
Dalam penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari
Antara kuli-kuli yang kembali
Dan perempuan mendaki tepi sungai kesayangan
 
Serta anak-anak berenangan tertawa tak berdosa
Di bawah bayangan samar istana kejang
Layung-layung senja melambung hilang
Dalam hitam malam menjulur tergesa
Sumber-sumber murni menetap terpendam
Senantiasa diselaputi bumi keabuan
Serta senjata dan tangan menahan napas lepas bebas
0, kota kekasih setelah senja
Kota kediamanku, kota kerinduanku
 
Memahami Puisi, 1995
Mursal Esten
 

Sastra Indonesia puisi, Toto Sudarto Bachtiar

Puisi : KEMERDEKAAN




Oleh :
Toto Sudarto Bahtiar





Kemerdekaan ialah tanah air dan laut semua suara
Jangalahn takut padanya
Kemerdekaan ialah tanah air penyair dan pengembara

Janganlah takut padaku

Kemerdekaan ialaha cintaku berkepanjangan jiwa

Bawalah daku kepadanya


Sastra Indonesia puisi, Toto Sudarto Bachtiar

Puisi : GADIS PEMINTA-MINTA


Oleh  :

Toto Sudarto Bachtiar

 
Setiap kali bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang
Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku
Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, ah kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda
 
 
 
 
Memahami Puisi, 1995
Mursal Esten
 

Sastra Indonesia puisi, Toto Sudarto Bachtiar
Tuesday, March 27, 2012

Cerpen : Bingkai



Cerpen by : Kurnia Effendi 
Sumber: Jawa Pos, Edisi 01/01/2006 

UNDANGAN dari Susan kuterima di kantor menjelang pukul tiga, ketika aku keluar dari ruang rapat. Rencana menyeduh kopi untuk mengusir kantuk segera terlupakan. Perhatianku tersita pada amplop yang didesain sangat bagus.
Saat kubuka sampul plastiknya, telepon di mejaku berdering. Aku mengangkat telepon tanpa menghentikan upayaku mengeluarkan art-carton yang dicetak dengan spot ultra violet pada tulisan "Bingkai".
"Selamat siang dengan Dudi, Auto Suryatama," sambutku automatically.
"Ahai, tumben kamu ada di tempat!" Seru suara dari seberang.
"Maaf, siapakah ini?"
"Susan! Kamu lupa suaraku? Padahal baru dua bulan yang lalu kita bertemu. Tak hanya bertemu, karena sepanjang dua malam kita bersama-sama." Ada nada gemas yang merasuk ke telingaku. "Sorry, aku telepon ke kantor. Hp-mu tidak aktif."
"Astaga!" Aku tertawa dan meminta maaf. Bukan tidak aktif, lebih tepat: nomornya berbeda. "Aku baru saja menerima sebuah undangan, jadi konsentrasiku bercabang. Tampaknya ini undangan darimu! Jadi rupanya kamu serius dengan rencana itu?"
"Tentu! Kenapa tidak? Kamu pasti ingat cita-citaku sejak SMA. Sudah sejak lama aku bermimpi bisa tinggal di Ubud. Tapi tidak mungkin aku terus-terusan berlibur membuang uang di sana. Jadi kuputuskan untuk mendapatkan kepuasan batin sekaligus finansial…"
"Aku harus bertepuk tangan untuk kegigihanmu. Hebat!"
"Ini juga karena ada bara cinta yang terus-menerus membakar."
Aku terkesiap mendengarnya.
"Cintamu, Dudi!" sambung Susan.
Entahlah: seharusnya aku melonjak gembira atau terkesiap waspada mendengar ucapannya yang demikian mantap? Tentu agak mengherankan jika seorang gadis Solo memekikkan kata itu, bukan membisikkan, yang mudah-mudahan tidak sedang antre di depan kasir supermarket.
"Dudi, kenapa kamu diam saja?"
"Oh, sorry! Sebenarnya aku mau melonjak-lonjak, tapi tentu salah tempat. Di depan mejaku sudah ada yang menunggu, mau membicarakan pekerjaan…"
"Oke, Sayang. Aku akan meneleponmu lagi nanti. After office hour, ya!"
Gagang telepon masih di telinga, menunggu Susan memutuskan hubungan. Bahkan setelah hubungan telepon terputus, seperti masih kudengar nada gembira Susan di telinga. Rembes ke dalam hati. Aku menghela napas seperti keluar dari ruang yang pengap, dan kusandarkan punggungku ke kursi yang lentur. Tak ada siapa-siapa di depanku. Jadi, aku tadi berdusta. Maafkan aku, Susan. Ternyata aku telah banyak berdusta. Tapi, percayalah, kasih sayangku kepadamu begitu jujur.
***
SEINGATKU tadi Lanfang minta dibawakan kue, karena malam ini sepupunya akan datang. Sambil meluncur pulang aku merencanakan singgah di sebuah bakery. Ada toko kue langganan sebenarnya, tapi di tengah perjalanan aku terpikat pada kerumunan yang mengundang selera untuk mampir. Selintas kulihat, di kiri dan kanan tempat ramai itu juga ada kafe dan kedai roti. Jadi tak terlampau salah jika aku sejenak berhenti dan mencari tempat parkir. Untung Swift yang kukendarai bukan tipe mobil besar, sehingga mudah mendapatkan tempat.
Rupanya sedang berlangsung seremoni pembukaan sebuah galeri, yang ditandai dengan pameran karya para pelukis muda Surabaya. Kulihat sepintas, ada Joko Pekik di ruang benderang itu: ikut berpameran atau hanya diminta pidato? Entahlah! Yang terbayang olehku adalah peristiwa serupa, yang akan berlangsung minggu depan di Ubud. Dan di tengah lingkaran para tamu, kuangankan si anggun Susan, dengan rambut dibiarkan terurai, bak burung merak yang tersenyum lebar memperkenalkan galerinya. Apa namanya tadi? Bingkai!
Aku turun dari mobil, melenggang masuk dalam kerumunan. Siapa pemilik galeri ini? Kalau Lanfang tahu, tentu ingin juga "cuci mata" di sini, apalagi dia sedang keranjingan mengapresiasi seni lukis, gara-gara pernah diminta oleh majalah untuk menulis liputan pameran di Balai Pemuda. Waktu itu dia mengeluh, karena tak tahu harus mulai dari mana untuk menilai lukisan.
"Aku iki isane nulis cerpen, lha kok dikongkon gawe resensi lukisan, yok opo sih?!" Ya. Aku ini bisanya cuma menulis cerpen, kenapa disuruh membuat apresiasi lukisan, bagaimana sih?!
Aku nyaris terpingkal melihat dia mencak-mencak. Tapi rasa ingin tahu dan semangat belajarnya cukup tinggi, sehingga waktu itu, selang sehari dia bisa bertemu dengan beberapa pelukis. Bahkan hari berikutnya dia berhasil membuat janji dengan seorang kurator untuk berbincang-bincang. Seharusnya kini ia berterima kasih kepada majalah wanita di Jakarta yang pernah memintanya untuk melakukan itu. Karena sekarang pikirannya lebih sensitif terhadap seni lukis dan grafis.
Sepuluh menit kuhabiskan waktu di galeri yang berinterior minimalis. Meskipun tampaknya tidak perlu menunjukkan undangan, tapi aku tentu bukan tamu yang dimaksud. Selanjutnya aku masuk ke kedai roti di sisi kanan, dan memenuhi pesanan Lanfang.
Sepanjang sisa jalan pulang, yang kupikirkan adalah cara pergi ke Bali. Meskipun Surabaya tak terlampau jauh dari Bali, rencana ke sana di luar tugas kantor tentu akan memancing keinginan Lanfang untuk ikut. Itu tak boleh terjadi! Tidak mungkin mempertemukan dua perempuan yang kusayang itu dalam satu ruang dan waktu. Bukan khawatir akan menjadi gagasan buruk sebuah novel bagi Lanfang, tetapi pasti menyebabkan tiupan badai yang kemudian merubuhkan perkawinan.
Jadi, mesti ada perjalanan dinas ke Bali! Barangkali, agar tidak terlampau mencurigakan, isu itu harus kuembuskan ke telinga Lanfang sejak dini. Nanti malam, sebelum bercinta. Dengan demikian, tidak terkesan sebagai kepergian mendadak. Tapi… astaga, bukankah benak perempuan sering dihuni oleh akal yang fantastik? Bisa jadi, karena waktunya masih lama, Lanfang membongkar tabungan dan berinisiatif untuk ikut. Dengan cara itu, biaya penginapannya gratis, bukan?
Keringat mengembun di keningku. Tiba-tiba pendingin udara dalam mobil terasa tak sesejuk biasanya. Mungkin sebaiknya kusampaikan sehari menjelang keberangkatan. Sambil pura-pura mengeluh: kenapa perusahaan tidak pernah mempertimbangkan karyawan, seenaknya saja menugaskan keluar kota tanpa perencanaan yang matang. Aha, aku tersenyum membayangkan reaksi Lanfang, yang akan menghibur dengan: "Ya sudahlah, namanya juga tugas. Tentu ada hal yang bersifat urgent di sana." Seraya mengelus pipiku. Dan aku akan memeluknya dengan manja seperti bayi.
Tapi tarikan pipiku berubah. Senyumku beralih rasa cemas. Bagaimana jika Lanfang justru menyikapi dengan kalimat seperti ini: "Ya sudah, biar tidak suntuk di sana, aku ikut menemani. Malamnya kan bisa jalan-jalan ke kafe di Legian atau Kuta."
Belokan terakhir menjelang tiba di rumah mendadak terasa tidak nyaman. Padahal tak ada "polisi tidur" di situ. Tapi aku berharap jarak yang kutempuh masih panjang dan perlu beberapa lampu merah. Agar sempat mengatur strategi yang paling masuk akal. Namun pikiran itu tercerabut sewaktu telepon selularku bergetar. Susan!
"Hai, aku lupa meneleponmu! Tadi ada kawan yang tanya ini-itu soal acara di Ubud. Biar murah aku menggunakan event organizer milik teman SMP-ku."
"O, no problem. Kebetulan aku sudah di jalan raya."
"Ya sudah, aku paling benci melihat orang mengemudi sambil telepon. Sampai besok, ya. Mmmuah!"
Rasanya pipiku jadi basah oleh sentuhan bibirnya. Kuembuskan napas keras-keras dan mengharap rasa nyaman masuk ke dalam hati. Pagar rumah sudah di depan mata. Langit mulai gelap, lampu-lampu teras di kompleks perumahan sudah menyala. Dan seperti biasa, pembantu segera menarik-geser gerbang besi yang warnanya sudah mulai pudar. Aku memarkir mobil ke carport.
"Ingat pesananku?" Lanfang menyambut di pintu.
"Tentu, Cantik." Kuangkat tinggi-tinggi oleh-oleh titipannya.
"Terima kasih." Dipeluknya aku, meskipun aroma tubuhku tak sesegar tadi pagi. Lalu jemarinya membuka dasi dari leherku. Mudah-mudahan itu bukan caranya mencari harum parfum lain yang mungkin menempel di bajuku. Mudah-mudahan.
Yang tak ingin terjadi adalah: Lanfang menemukan undangan Susan. Aku mesti menyimpannya di tempat yang jauh dari jangkauan Lanfang.
***
AKU akan datang sehari sebelum grand opening Galeri Bingkai, yang ternyata letaknya tak jauh dari Galeri Rudana. Tempat yang sungguh rupawan dan sesuai dengan selera Susan. Dia seorang pemilih yang baik. Dia pula yang memilihkan hotel ketika aku bertugas ke Solo.
"Kamu harus menginap di Lor In," usulnya. Karena tempat itu memiliki banyak taman yang khas gaya Bali. Walaupun, ketika sudah melebur di kamar tidur yang luas, nyaris tak berbeda dengan hotel lain. Ingatanku justru selalu tersangkut pada rambut Susan yang berulang kali memenuhi wajahku. Biasanya kesibukan yang membuat tubuh kami lembab itu akan berakhir dengan aroma terapi di seluruh kamar mandi. Harum cendana memenuhi bath-tub.
"Cantik, akhir-akhir ini kamu begitu sibuk." Aku menelepon Lanfang dari kantor.
"Ya. Dalam seminggu ini aku harus sudah selesai memeriksa dan memberikan persetujuan pada calon bukuku sebelum naik cetak. Kenapa?"
"Besok aku tugas ke luar pulau. Ke Lombok, tapi mungkin singgah di kantor cabang Bali dulu. Aku belum sempat membereskan kopor, bisa minta tolong?"
"Oke, tak masalah. Kok mendadak? Berapa hari?"
"Baru kudapat surat tugasnya tadi siang. Sekarang aku harus mengambil tiket sendiri ke agen. Sekitar tiga-empat hari, tergantung bagaimana kondisi network di Lombok."
"Yo wis, ojo bengi-bengi mulihe. Kamu perlu istirahat malam ini."
Tentu tidak akan larut malam, karena sebenarnya tiket sudah kupegang. Tapi yang penting aku tahu, Lanfang begitu sibuk membaca ulang naskahnya yang sudah di-setting.
Rasanya tadi Lanfang mengingatkan agar aku cukup istirahat malam ini. Tetapi yang dilakukan berbeda dengan sarannya. Ia menandai halaman buku yang sedang dibaca, menyurutkan lampu kamar hingga temaram, lalu masuk ke bawah selimutku. Cumbuannya selalu dimulai dari bibir. Mungkin untuk mengingatkanku bahwa ia sesungguhnya tak hanya cerewet, tapi juga cekatan ketika pekerjaan larut malamnya dilakukan tanpa kata-kata.
Sebelum tertidur, Lanfang membiarkan wajahku menyusup ke lehernya. Ke dekat urat nadinya. Setidaknya ia tahu bahwa napasku terembus penuh cinta. Tetapi besok, begitu tiba di Denpasar, kutelepon Lanfang seperlunya, selanjutnya aku akan menggunakan nomor lain. Hanya Susan yang tahu nomor itu. Bagaimanapun, berdusta itu mendebarkan!
***
AKU memarkir mobil yang kupinjam dari kantor cabang diBali . Senja baru saja lenyap. Kudengar musik sayup gamelanBali . Rupanya Susan telah mengemas suasana menjadi begitu etnik. Kulihat dinding teras galeri mungil itu dibuat dengan batu paras. Lantai batu alam membuat kesan natural lebih mendalam. Cahaya lampu yang menyiram beranda langsung memperlihatkan wajahku, sehingga Susan yang --seperti telah kuduga sebelumnya-- anggun dengan rambut terurai dan mengenakan kain corakBali , menoleh ke arahku. Senyumnya merekah. Aku melihat matanya berbinar.
"Oke, teman-teman, para undangan dan wartawan, kekasih yang kutunggu sudah tiba. Kita akan mulai acaranya…"
Aku agak kikuk, namun Susan meleburnya dengan pelukan yang begitu mesra.Ada beberapa bule yang hadir disana . Justru membuat Susan tidak merasa sungkan mencium bibirku. Dan entah kenapa, para wartawan itu begitu gemar dengan hal-hal yang berlangsung sebentar tetapi berdenyar. Mereka memotret. Sejenak mataku silau.
Namun ketika pelukan Susan lepas dan aku mencoba mengitarkan pandangan, di antara pengunjung kulihat seseorang yang sangat kukenal. Mataku masih terpengaruh oleh kilat lampu blitz. Tapi tidak mungkin lupa wajah istriku.
Lanfang ada di sudut itu! Dengan sebuah kamera digital di tangannya. Wajahnya tertegun. Atau terpesona? Tapi parasnya memucat.
"Baiklah," ujar master of ceremony. "Kita akan mendengar awal gagasan mengenai Galeri Bingkai. Silakan Susan bercerita untuk kita…"
Selanjutnya telingaku tidak menangkap kata-kata Susan, karena segera bergegas mengejar Lanfang yang beringsut begitu cepat ke arah pintu keluar. Aku mengutuk diriku yang mengganti nomor handphone. Pasti ia telah mencoba menghubungiku sejak kemarin. Apakah aku juga harus mengutuk majalah yang memintanya meliput acara ini? Bukankah dia sedang sibuk dikejar batas waktu oleh penerbit bukunya?
"Lanfang!" aku memanggil.
Di luar sunyi, tapi tidak dengan degup jantungku yang gemuruh.
"Nama Bingkai kupilih karena…." Suara Susan semakin sayup. Sementara di taman yang separuh gelap itu, aku mencari degup jantung Lanfang. ***
Jakarta, 10 Desember 2005 

Sastra Indonesia cerpen

Cerpen : Biji Mata Untuk Seorang Lelaki



Cerpen by : Timbul Nadeak
Sumber: Kompas, Edisi 06/06/2004

LELAKI itu samar-samar melihat seraut wajah yang hanya memiliki bibir dan hidung. Ia memicingkan mata agar dapat melihat lebih jelas. Bibir itu tersenyum. Tapi tarikan di ujung bibir terlalu dalam sehingga senyuman itu terlihat seperti sedang mengejek. Sinis. Dan seolah tak ingin diamati, tiba-tiba wajah itu berubah menjadi kecil, semakin kecil, bertambah kecil lagi..., hingga menjadi satu biji mata yang kemudian meloncat dan menempel di dinding!

Lelaki itu tersentak dari lelap tidurnya. Mimpi aneh itu memaksanya untuk bangun dan duduk bersila di atas tempat tidurnya. Sambil menopangkan dagu di atas lengannya, ia membuka kelopak mata. Sesaat ia terperanjat. Matanya bertabrakan dengan satu biji mata di dinding! Lalu ia memejamkan mata kembali sambil menarik nafas panjang. "Tak mungkin! Tak mungkin!" gumamnya berulang kali. Dengan mata yang masih terpejam, ia mengeleng-gelengkan kepala beberapa kali, berusaha menghalau mimpi yang mungkin masih tersisa di benaknya. Setelah membuka mata kembali, bibirnya tersenyum. Mimpi itu telah berlalu, katanya dalam hati. Lalu ia merebahkan tubuhnya sambil menghembuskan nafas lega. Tapi sebelum hembusan nafas lega itu berakhir, matanya terbelalak. Ada satu biji mata di langit-langit! Ia segera bangkit dan berjalan tergesa-gesa meninggalkan kamar tidurnya. Sambil berjalan, ia menoleh ke belakang beberapa kali. Menatap percaya!

Walau suara azan subuh telah terdengar sayup dari mesjid yang terletak di ujung jalan, lelaki itu masih duduk gelisah di teras rumahnya. Ia merenung sambil menatap lantai. Tak dapat dipahaminya mengapa biji mata yang dilihatnya dalam mimpi dapat menjelma menjadi kenyataan. Ada kebimbangan untuk mempercayai apa yang telah dilihatnya. Ingin diperiksanya dinding dan langit-langit kamar tidurnya sekali lagi. Ia sangat ingin melakukan hal itu tetapi khawatir menerima kenyataan yang akan dilihatnya. Bagaimana bila biji mata itu ternyata masih berada di kamarnya? Mungkin sudah tidak berada di langit-langit. Mungkin sudah di atas meja lampu di samping tempat tidur, atau bahkan mungkin tergeletak di atas kasur. Benaknya terasa panas dan pengap dipenuhi oleh banyak pertanyaan. Semakin berusaha untuk menjawab, semakin tak ada jawaban yang memuaskan hatinya. Hanya ada satu hal yang dapat ia simpulkan; ia merasa mengenal biji mata itu. Mirip dengan biji mata seseorang. Ia merasa pernah menyelam ke dalam bagian tengahnya yang berwarna hitam. Biji mata seorang perempuan!

Mungkinkah itu biji mata Nita? Mata yang selalu mengundang sekaligus menantang. Mengundang lewat tatapan nakal yang disertai beberapa cubitan manja di lengan dan pinggangnya. Bila tatapan itu dibalas dengan bungkusan kecil berisi serbuk-serbuk putih, maka ia merasa berhak - dan tak akan pernah ditolak - untuk memeluk sambil meliuk-liukkan badan di lantai disko. Tantangan pun ditebarkan di bawah siraman warna-warni bola lampu kristal dan sambaran sinar laser. Dituntun oleh dentuman musik yang agak menusuk ulu hati, perut perempuan muda itu tak pernah mengelak ketika ia mengentak-entakkan bagian bawah pusarnya. Lengan mulus yang bergayut di tengkuknya turut menebarkan sihir yang memaksa lelaki itu untuk tetap menunduk, bersiap menyelam ke dalam telaga birahi yang di biaskan bola matanya.

Sambil mengusap-usap kelopak matanya yang terasa pedih, lelaki itu bergumam, "Mungkin itu bukan Nita!!"
LELAKI itu berdiri sejenak di ambang pintu untuk mengamati semua furniture di dalam kamar tidurnya. Tak ada yang berubah. Semua tetap bersih dan tak ada yang bergeser dari tempatnya. Perempuan tua yang menjadi pembantu di rumahnya telah mengganti bed-cover dengan warna biru. Warna kesukaannya. Sebelum melangkah, ia mengamati dinding dan langit-langit. Bersih. Tak ada biji mata yang menempel!

Telah seminggu lelaki itu tidak tidur di kamarnya. Malam dilewatinya dari satu kamar hotel ke kamar hotel lainnya. Selalu berpindah-pindah. Tapi, semakin lama menginap di hotel, semakin menggumpal kegelisahan di hatinya. Ia merasa direndahkan. Satu biji mata telah mengusirnya dari sebuah ruang yang sangat pribadi baginya. Ia bebas tidur di mana saja terkecuali di kamar tidurnya sendiri. Ia bebas dalam ketidakbebasan. Ia mulai merasa terhina. Akhirnya ia memutuskan untuk merampas kembali kebebasan yang pernah ia miliki. Aku harus melawan, katanya dalam hati sambil mengepalkan jari-jari tangannya. Aku tak akan menghindar, apa lagi melarikan diri.
"Biji mata itu hanya sebuah halusinasi yang berhasil menancap ke dalam benak. Seolah ada, padahal tidak ada. Tak ada tempat bagimu untuk bercokol di benakku!" gumam lelaki itu. Akan kau rasakan perlawananku!

Lelaki itu membaringkan tubuhnya. Menarik nafas panjang untuk meredakan debar jantungnya. Ia belum sempat memejamkan mata ketika satu biji mata tiba-tiba menempel di dinding. Dengan sigap, ia bangkit untuk meraih sebatang pipa besi yang telah ia persiapkan. Ia sengaja meletakkan pipa besi itu di samping tempat tidurnya.
"Siapa kau?" bentak lelaki itu sambil membidikkan bagian runcing di ujung pipa, mengancam hendak menusuk.
Bulatan hitam di bagian tengah biji mata itu tiba-tiba berubah warnanya. Menjadi merah. Seperti warna bara api. Mengkilap. Sesaat kemudian, biji mata itu meloncat ke lobang udara dan menghilang.

Lelaki itu tersenyum. Matanya berbinar-binar. Embusan nafas lega beberapa kali mengalir dari kerongkongannya. Persis seperti yang diduganya. Tak akan ada perlawanan. Benda lembek itu hanya bisa menampakkan diri untuk menakut-nakuti. Baru digertak dengan ujung pipa besi, sudah terbirit-birit melarikan diri. "Keberanian yang dipersiapkan dan diperhitungkan dengan baik akan selalu membawa kemenangan," katanya lirih.

Belum lewat tengah malam, lelaki itu tersentak dari lelap tidurnya. Matanya terbelalak melihat satu biji mata yang melayang-layang di kamar tidurnya. Dengan gesit, diraihnya kembali pipa besi itu. Ia langsung menyerang. Ujung pipa yang runcing ditusukkannya berulang kali. Tapi biji mata itu selalu berhasil mengelak. Ketika biji mata itu berhenti melayang-layang, lalu menempel di bagian atas dinding, lelaki itu memburunya dengan amarah yang meluap. Lengannya terangkat tinggi, membidik, siap untuk menombak! Lalu pipa besi ditombakkan! Biji mata mengelak. Berulang kali ditombakkan. Berulang kali pula biji mata itu berhasil mengelak. Dan ketika melayang melintasi jendela, lelaki itu menombak kembali. Byaaar...! Ia berdiri kaku. Terpana. Keheningan malam dikoyak oleh suara kaca pecah. Pecahannya berserakan di lantai. Dinding dipenuhi lubang-lubang bekas tombakan!

Lelaki itu terduduk di lantai. Keringat bercucuran di sekujur tubuhnya. Nafasnya tersengal-sengal. Tersirat keputusasaan di raut wajahnya. Dengan tatapan resah, ia mengamati biji mata yang melayang persis ke hadapannya. Baru disadarinya bahwa biji mata itu ukurannya lebih kecil dari biji mata yang ia lihat sebelumnya. Bagian yang putih terlihat sangat putih. Bulatan hitam dibagian tengah sangat hitam. Pekat. Dan ketika bulatan hitam itu melirik ke sudut kamar, lelaki itu pun menoleh. Di atas pintu, ada menggantung satu lagi biji mata yang bulatan tengahnya berwarna merah!
"Kau pembunuh!"
Tuduhan itu berasal dari biji mata berukuran kecil yang masih melayang-layang di hadapannya. Suara itu jelas terdengar, lembut dan bening, seperti suara bayi. Lelaki itu menjadi kalut. Dengan tergesa-gesa, ia bangkit dan berlari meninggalkan kamar tidurnya.

Lewat tengah malam, Satpam yang duduk mengantuk di posnya dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki yang baru turun dari taksi. Ia menatap tak percaya. Di hadapannya berdiri seorang lelaki dengan rambut acak-acakan dan piyama sutra yang menggantung di bahu. Lelaki yang harus diberi hormat dengan anggukan kepala setiap kali mobil mewahnya melintasi Pos Jaga.
"Buka pintu office, ada hal penting yang harus segera kukerjakan!"
RUANG kecil itu terletak di bagian samping gereja. Terisolasi. Ruang itu terbagi menjadi dua bilik. Salah satu dari bilik itu sering dipergunakan umat-Nya untuk mengakui dosa. Pada bagian tengah pembatas bilik, ada sejenis jendela kawat. Bentuk jendela itu seolah disengaja untuk membatasi pandangan mata, menghambat pikiran untuk mengembara, menuntun hati untuk pasrah. Hanya ada satu lampu yang bersinar redup tergantung di langit-langit. Ruang kecil itu terasa khusuk. Sepi. Orang yang sedang mengaku dosa menjadi merasa yakin bahwa tidak ada orang lain yang akan mendengar pengakuannya terkecuali seorang pastor yang duduk di bilik sebelahnya.

Lelaki itu sempat mempertimbangkan untuk mengunjungi seorang psikolog. Ia ingin menceritakan semua kejadian yang ia alami, ingin mendengar saran agar ia dapat menghindar dari halusinasi yang sedang mengganggu dirinya. Ia merasa yakin biji mata yang mengganggunya hanyalah sisa sebuah mimpi yang belum sirna walau ia telah terjaga. Ia juga ingin mendapat penjelasan mengapa ada mimpi yang seperti itu. Tapi ada bisikan dari hatinya melarang untuk melakukan hal itu. Psikolog itu akan mengajukan banyak pertanyaan, bertubi-tubi. Dan bila ia menjawab dengan jujur, jawaban-jawabannya dapat membahayakan dirinya sendiri. Ia tidak boleh berkata jujur kepada orang yang belum dapat dipercaya!

Sambil berlutut, mata lelaki itu menerawang melalui lubang-lubang kawat. Dalam keremangan, masih dapat dilihatnya senyum di bibir pastor itu. Tapi senyum itu tidak cukup kuat untuk menenteramkan kegelisahannya. Jari-jari tangan lelaki itu mencengkeram kusen jendela. Bola matanya menatap penuh harap. Kesunyian di ruang kecil itu membuat debar-debar di dadanya terasa lebih keras.
"Romo, sebulan yang lalu aku membayar seseorang untuk menabrak mobil Rosa, istriku!" kata lelaki itu lirih. Sambil menarik nafas panjang, ia menoleh ke kiri dan kanan. Lalu mengamati sudut-sudut bilik untuk memastikan bahwa tidak ada sebuah benda yang sedang mengintainya.
"Sebenarnya Rosa sedang hamil. Akibat tabrakan itu, ia keguguran dan akhirnya meninggal. Tapi anak yang dikandungnya bukan berasal dari benihku. Aku memang mengawini perempuan sundal. Aku bosan menjadi bawahannya, Romo. Bosan hidup dalam kemiskinan. Aku mengawininya karena ingin mengubah jalan hidupku. Tapi dasar sundal, dibuatnya aku sebagai boneka mainan. Aku harus selalu mengatakan ya. Bila mengatakan tidak, ia mengancam untuk bercerai. Berulang kali ia mengancam seperti itu!"

Lelaki itu terdiam sejenak. Ada bayangan yang melintas di hadapannya. Muncul berganti-ganti. Wajah pucat pasi di atas kereta dorong di Ruang Emergency, darah yang masih mengalir dari selangkangan, darah yang menggumpal di atas jok mobil, dan... senyum kemenangan yang sengaja ia sembunyikan dari bibirnya!
"Romo, aku tak bersedia menjadi bola yang dapat ia tendang kapan dan ke arah mana ia suka".
Lelaki itu terdiam lagi. Ia menundukkan kepala. Entah mengapa, tiba-tiba dadanya berdebar-debar kembali. Bergemuruh. Butir-butir keringat mulai mengkristal di pori-pori dahinya.
"Apakah dosaku masih dapat diampuni, Romo?" sambil bertanya ia mengangkat kepala. Tapi bola matanya bertabrakan dengan satu biji mata yang terselip di lubang kawat. Biji mata yang bulatan tengahnya berwarna merah!
Dengan sigap lelaki itu berdiri, dan berjalan tergesa-gesa meninggalkan Bilik Pengakuan Dosa. Beberapa langkah kemudian, ia berlari secepatnya. Ia tidak berani menoleh ke belakang. Sekali pun tidak! Sekarang ia dapat memastikan bahwa biji mata berwarna merah itu adalah biji mata Rosa!

Lelaki itu mengempaskan dirinya di atas kursi empuk di ruang kerjanya. Tubuhnya seolah tenggelam ditelan besarnya sandaran kursi yang terbuat dari kulit halus. Matanya memandang liar. Dinding-dinding dan langit-langit diamati dengan teliti. Bola matanya bergerak-gerak ke segala arah. Rongga dadanya terasa sesak. Dinginnya ac tak mampu menghentikan cucuran keringat di sekujur tubuhnya. Dan tiba-tiba, satu biji mata jatuh di atas meja kerjanya. Persis di hadapannya! Ia tahu itu adalah biji mata Nita. Mata yang terbelalak akibat overdosis, yang memiliki bibir indah, yang selalu mendesah meminta serbuk-serbuk putih disuntikkan ke urat darah di siku lengannya.

Lelaki itu memejamkan mata. Ia merasa heran, mengapa biji mata Nita berani muncul di hadapannya. Tantangan apa lagi yang sedang ditebarkan? Padahal tantangan terakhir telah dijawabnya setengah jam sebelum perempuan muda itu terkapar tak bernyawa. Ia terus menghujamkan pinggulnya, tidak menyadari tubuh telanjang yang ditindihnya sebenarnya sedang sekarat, sedang meronta membebaskan diri dari serbuk-serbuk putih yang menari-nari meregang nyawa. Maka ketika membuka matanya, lelaki itu memutuskan untuk melawan. Bila ia menghindar, biji mata itu akan terus mengejarnya. Mungkin mengejar sambil tertawa mengejek.

"Hai biji mata, kau tak akan pernah bisa menakuti dan mempermalukan diriku! Aku bukan seorang pecundang!" teriak lelaki itu sambil mengayunkan lengannya. Dengan cepat, ia menampar biji mata itu. Tapi dengan cepat pula biji mata meloncat ke atas, menghindar, dan jatuh kembali ke tempat semula. Sesaat kemudian, sebelum sempat mengulang tamparannya, tiba-tiba satu biji mata lain yang bagian tengahnya berwarna merah-entah datang dari arah mana-jatuh pula di atas meja kerjanya.

Lelaki itu terhenyak. Ia sedang ditantang. Dipermalukan. Dihina. Dengan kemarahan yang meluap, ia mengayunkan lengannya kembali. Menampar berkali-kali dengan kedua belah tangannya, kiri dan kanan, silih berganti! Kertas-kertas, map, rak kertas in dan out, buku, jam meja, telepon, semua berserakan di lantai akibat tamparannya. Tapi dua biji mata masih tetap tergeletak di atas meja! Mengejek!

Dengan nafas tersengal-sengal, tatapan tak percaya, lelaki itu melangkah terhuyung-huyung ke arah pintu. Ia ingin segera berlari meninggalkan ruang kerjanya. Berlari sekencang-kencangnya, berlari..., berlari..., entah ke mana. Tapi sebelum tangannya meraih gerendel pintu, langkahnya terhenti. Di gerendel pintu ada satu biji mata lainnya. Ukurannya lebih kecil.
"Kau pembunuh!"
Suara itu terdengar lembut, tetapi mampu membuat getaran panjang di gendang telinga lelaki itu, seolah ada gaung yang menghantam benaknya berulang kali!

DI trotoar di pusat kota, ada seorang lelaki perlente yang selalu berjalan terburu-buru. Ia selalu menoleh ke segala arah. Matanya menatap curiga. Bibirnya selalu bergumam. Kadang-kadang ia berlari sambil berteriak sekeras-kerasnya seolah ingin mengalahkan kebisingan lalu lintas. Kadang-kadang ia berdiri terpaku mengamati jendela dan dinding kaca gedung-gedung yang menjulang di hadapannya. Sambil menunjuk bagian tertentu, ia berseru: "Mata! Mata! Ada mata...!" Beberapa orang yang berada di sekitarnya berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah dinding kaca. Merasa tak melihat apa-apa, pandangan mereka berpindah ke telunjuk lelaki itu, kemudian menoleh kembali untuk mengamati dinding kaca yang ditunjuknya. Mereka tetap tak melihat apa-apa!

Lelaki perlente itu masih mengenakan dasi dan sepatu kulit yang sudah berdebu. Pada malam hari ia tidur di trotoar atau di bawah pohon rindang di taman kota. Sebelum tidur, kadang-kadang ia menangis terisak-isak!
Jakarta, April 2004

Sastra Indonesia cerpen