Contoh Cerpen, Puisi dan Sastra

Wednesday, December 26, 2012

Gadis Musim Semi


Gadis itu masih di sana. Duduk di atas meja dengan sorot yang tenang menghadap ‘lukisan Tuhan’ yang menghampar biru di atas. Tak ada yang spesial, memang. Hanya duduk diam sambil menatap langit yang setiap hari sama, mungkin akan terasa membosankan bagimu. Namun tidak bagi gadis itu. Menatap langit itu sama dengan menghirup teh hangat di depan perapian saat musim dingin tiba, atau tidur di atas pangkuan Ibu dengan belaian-belaian lembut yang mendamaikan. Begitu menyenangkan. Begitu menenangkan. Oh,  lihatlah! Bahkan kegaduhan di ruangan kelas tempatnya berdiam diri itu pun tak sanggup mengusik kenyamanannya.

Manik hitam kelam milik gadis itu pun beralih ke bawah, ke halaman sekolah yang memang terletak di lantai dasar, berbeda dengan kelasnya yang ditempatkan di lantai dua. Dan dengan tak sengaja ia menemukannya! Kedua bola matanya memang sepertinya diciptakan untuk sensitif terhadap sesuatu yang menyangkut tentangnya.

Ia melihat dia. Dia, yang tegak dengan gagahnya, seolah badai sekalipun tak sanggup untuk merobohkannya. Dia, yang tetap memesona dengan wajah malaikatnya, membuat si gadis tak sanggup memalingkan pandangan darinya barang sebentar saja. Dia, dengan kedua bola mata hitam yang menatap bagai pandangan sang elang. Dan itu dia, yang tersenyum indah dalam segenap kesempurnaannya.

Si gadis penggemar langit hanya menghela nafas perih, menatap pemandangan di bawahnya. Senyuman itu bukan untuknya. Dan tak akan pernah untuknya.

Dia hanya tersenyum saat mengawasi laki-laki itu tertawa di tengah candaannya dengan seorang gadis di sisinya. Senyuman yang sarat akan luka. Dia bahkan tak pernah tertawa sebahagia itu saat sedang bersamaku.

“Gia, aku menyukai Ruby.”

Ah! Memori itu tiba-tiba saja berkelebat di otaknya, seperti semacam video yang terputar berulang-ulang, menyakitkan kepalanya. Ia masih ingat bagaimana ekspresi laki-laki itu saat mengatakan “aku menyukai Ruby”. Masih terekam jelas di telinganya bagaimana nada bicara sahabatnya itu ketika mengutarakan perasaannya yang sesungguhnya. Begitu meneduhkan. Begitu bahagia. Seolah tak peduli meski kiamat akan tiba dalam beberapa menit ke depan. Gia paham bahwa sahabatnya itu tengah terbuai dalam atmosfir asmara. Gia sangat mengerti mengapa laki-laki itu bisa sebegitu bahagianya hanya karena seseorang istimewa yang tiba-tiba hadir di hidupnya. Gia tahu, ini yang dinamakan jatuh cinta. Sebab, Gia pun tengah mengalami hal demikian.

“Aku juga menyukaimu...”

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

“Aku belum berani mengajaknya jalan-jalan, Gia. Jangan memaksaku seperti itu!”

“Hey, siapa yang memaksamu? Aku hanya menyarankan agar kalian bisa lebih dekat, itu saja,” melipat lengan di dada, Gia memasang wajah kesal andalannya, “Ya sudah kalau kau tidak mau. Aku takkan membantumu lagi.”

“Memangnya kalau jalan-jalan, hubungan kami akan lebih dekat seperti yang kau katakan?”

Gia melirik laki-laki di sampingnya dengan tatapan yang dibuat tajam, lalu mendengus sebal, “Jadi kau meragukan ucapan sahabatmu, Azkar?”

Azkar hanya meringis dan menepuk-nepuk pelan kepala Gia yang tengah melahap kue terakhir di piringnya, “Bukan begitu, aku hanya...”

TING

“Ah, kuenya sudah matang! Akan kuambilkan,” dengan begitu, menghilanglah Azkar yang beranjak pergi dari pandangan Gia.

Setelah memastikan Azkar telah lenyap ditelan bumi –ditelan ruangan maksudku-, Gia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mirip orang hendak maling jemuran, lalu diam-diam mengambil ponsel milik Azkar yang tergeletak di atas karpet.

“Kalau jadi pengecut begitu, mana bisa dapat cewek!” desisnya sambil mengotak-atik ponsel tak berdosa itu. Jemarinya bergerak cepat, mencari sebuah nama di contact person yang ia yakini pasti sudah disimpan Azkar. Gotcha! Tak perlu usaha hingga titik darah penghabisan untuk menemukannya.

Ruby.

Jemari lentik itu pun terhenti sejenak. Gia menghela nafas berat. Sudah saatnya ada yang dikorbankan dari dirinya. Sudah waktunya menggali hatinya sendiri untuk mengubur perasaan itu. Cukup dengan kebahagian Azkar. Cukup dengan melihat wajah tampan itu tersenyum. Gia cukup menjadi bayang-bayang Azkar yang akan selalu ada di belakangnya saat seluruh dunia berpaling dari lelaki itu. Jika Azkar dapat menggenggam kebahagiaannya, maka itu cukup.

To : Ruby
Hey, apa aku mengganggumu? Aku lapar, bisakah siang ini kita pergi untuk makan? :)

Gia segera menekan tombol ‘send’ di ponsel itu. Lalu menatap layar ponsel dengan potret seorang gadis yang sedang tersenyum manis sebagai wallpapernya. Gadis yang tentu saja, demi apapun di dunia ini, bukan dirinya. Bisa kau tebak siapa itu? Mintalah hadiah lima es krim Magnum pada Gia bagi yang mampu menjawabnya!

Ponsel itu tiba-tiba bergetar menandakan ada pesan masuk, dalam waktu yang teramat singkat. Saking singkatnya bahkan Gia pun tak sempat untuk berkedip. Gia menekan tombol ‘read’, dan membaca apa yang tertulis di dalamnya.

From : Ruby
Aku sama sekali tidak merasa terganggu, Tuan. Santai saja. Ah, ide bagus! Kutunggu kau di Cafe Mixture pukul 2 nanti. Bagaimana?

Gia dengan tergesa-gesa meletakkan kembali ponsel milik Azkar itu ke tempat semula, setelah sebelumnya memberi balasan “Baiklah” pada Ruby. Bersamaan dengan menempelnya bokong Gia di atas karpet, Azkar muncul dari balik dinding pemisah ruangan dengan sepiring besar kue yang masih tampak berasap di tangannya.

“Hati-hati, Bodoh! Kuenya masih panas,” sahut Azkar ketika Gia berteriak ‘panaaas!’ saat gadis itu dengan sembrononya mencomot kue yang jelas-jelas masih dikelilingi asap itu dari piring. Gia hanya mengerucutkan bibirnya sambil memandangi dan sesekali meniupi jari tangannya yang memerah.

“Ehem,” Azkar mengerutkan alisnya mendengar Gia berdehem tidak jelas, “Mm, pukul 2 siang nanti datanglah ke Cafe Mixture,” ucapnya sambil memakan kue dengan hati-hati, takut kejadian tadi terulang kembali.

Alis Azkar semakin berkerut mendengar penuturan Gia, “Untuk apa?” tanyanya, lalu detik kemudian, senyuman nakal bertengger di wajahnya, “Kau mau mengajakku kencan, ya?”

Dan satu buku Fisika setebal 1,5 sentimeter pun melayang dan mendarat dengan tidak elitnya di wajah Azkar.

“Aduuh! Kau tidak perlu memukulku, kan?” gumam Azkar sambil mengusap-usap wajah semulus aspalnya –ups!

Azkar semakin gemas kala orang yang bersangkutan hanya melahap kuenya dengan tenang, seolah-olah ia baru saja diturunkan dalam wujud seorang bayi yang tak ternodai oleh dosa. Pemuda itu mendengus keras-keras dan akhirnya malah memposisikan dirinya di samping Gia, kemudian mengambil sekeping kue, “Lalu,” katanya sambil menatap Gia penuh selidik, “...untuk apa aku harus ke Cafe Mixture?”

Alih-alih menjawab, Gia hanya menatap wajah Azkar dengan ekspresi yang sulit diidentifikasi. Azkar menjadi bingung dibuatnya. Namun ketika mengawasi Gia yang mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum penuh arti, Azkar melotot selebar-lebarnya dan tanpa sadar menjatuhkan kue di tangannya, “KAU!!”

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

21.00. Seharusnya seperti malam-malam sebelumnya, ketika jarum jam menunjuk ke angka itu, Gia telah hijrah ke dimensi mimpi dan menjelajah di dalamnya. Namun tidak untuk malam ini.

Waktu diam di kamar ternyata hanya dihabiskan dengan berguling-guling di atas tempat tidur. Bukan berguling-guling dalam rangka latihan senam lantai untuk ujian sekolah, tentu saja. Matanya malam ini entah mengapa begitu sulit diajak kompromi dengan otaknya. Padahal Gia yakin bahwa kotoran kue yang menempel di wajahnya tadi adalah akibat ia jatuh tertidur di atas piring saat makan malam berlangsung.

“Haaahh..” Gia berteriak tertahan karena frustasi sambil meregangkan tubuhnya, “Bosaaan!!”

Dengan posisi tubuh yang masih terbaring, Gia meraih ponselnya yang terbujur kaku di atas meja di samping tempat tidurnya. Kemudian mengetikkan sesuatu.

To : Azkar – Cowok – Sok – Keren
Zee, kau sedang apa? Aku bosan, temani aku ngobrol malam ini ya :)

Gia termenung seketika, sebelum jarinya sempat menekan tombol ‘send’. Huh, pasti dia sedang bersenang-senang malam ini, pikirnya. Dan ponsel itu pun pada akhirnya kembali ditelantarkan di atas meja.

Gia kembali teringat dengan nama panggilan yang diberikannya pada Azkar. Zee. Gia sendiri tak mengerti bagaimana bisa nama panggilan yang jelas-jelas tak memiliki kemiripan sama sekali dengan nama asli Azkar itu berkelebat di otaknya. Si pemilik nama yang merasa adanya ketidakberesan dalam nama panggilannya itu pun terbengong-bengong ketika Gia secara perdana menyerukan panggilan ‘Zee’ untuk dirinya. Dan saat Azkar bertanya perihal itu, Gia hanya menggaruk kepalanya sambil nyengir dan berkata, “Haha, entahlah. Mungkin karena ada huruf ‘Z’ di namamu,” membuat alis Azkar berkerut heran, namun akhirnya lelaki itu hanya manggut-manggut memaklumi otak slebor milik sahabatnya.

Azkar boleh saja tak ambil pusing masalah penamaan secara sepihak dan seenaknya oleh Gia itu. Tetapi siapa yang tahu bahwa Gia ternyata menyimpan maksud tertentu di balik nama ‘Zee’ yang diciptakannya? Tentu saja hanya Gia, Tuhan, dan penulislah yang mengetahuinya.

Gia hanya ingin menyerasikan nama Azkar dengan nama panggilan yang dibuat pemuda itu untuk dirinya. Gee. Yah, meskipun nama ciptaan Azkar itu tentu saja memiliki kemiripan dengan nama asli si gadis, berbeda sekali dengan nama yang Gia ciptakan dengan disertai pemikiran yang hanya sebatas 25%. Gee dan Zee. Bila dengan orangnya tak bisa, Gia ingin namanya saja yang bersanding dengan nama lelaki itu. Boleh begitu, bukan? Terdengar melankolis, memang. Namun itu hanya permintaan yang sederhana dari Gia. Tak muluk-muluk.

Luruh sudah kesabarannya. Jarum jam sudah berpindah tempat sejak tadi ke angka 21.30. Namun tubuhnya masih belum menunjukkan tanda-tanda akan kantuk yang biasanya selalu muncul bahkan tanpa harus ia undang. Gia segera bangkit dari tempat tidurnya, menghampiri laptop Apple-nya di atas meja belajar. Setelah menyalakan dan mengaktifkan wi-finya, Gia iseng-iseng membuka akun Facebook miliknya. Siapa tahu ada teman yang bisa kuajak mengobrol, pikirnya. Dan benar saja! Baru beberapa detik Gia membuka akunnya, muncul pesan di kotak obrolannya. Gia mengerenyitkan dahi begitu melihat pengirimnya.

Azkar Aufa Ananta
Hey, Gadis Barbar! Terima kasih untuk bantuanmu, ya. Kau benar, kami jadi dekat setelah jalan-jalan tadi. :)

Gia tersenyum membaca pesan itu. Lalu mengetikkan sesuatu.

Gia Valerina Cassandra
Ya, ya, Azkarung Beras. Kau berutang dua es krim Magnum padaku. :p

Azkar Aufa Ananta
Hanya dua? Aku bahkan akan membelikanmu tiga es krim Magnum.

Gia Valerina Cassandra
Oh, really? Bukankah satu bulan uang sakumu terhitung satu minggu uang sakuku? :p

Azkar Aufa Ananta
Jangan meremehkanku, Nona! Aku takkan menarik kata-kataku. Itulah jalan hidupku. :p

Gia Valerina Cassandra
Hah, seperti Naruto saja. :p :p :p

Azkar Aufa Ananta
Huh, biar saja. :p :p :p :p :p

Gia Valerina Cassandra
Hey, Zee. Temani aku ngobrol malam ini yaa. :) :) :)

Gia termangu menatap layar laptopnya, menunggu balasan dari Azkar. Namun hingga menit-menit selanjutnya, kata “Ya” atau bahkan kata-kata mengejek yang ditunggunya dari Azkar tak kunjung mampir di kotak obrolannya. Gia lalu kembali mengetikkan sesuatu.

Gia Valerina Cassandra
Hey, kau sudah tidur ya? Dasar kebo! Selamat tidur, Kebo. :p

Untuk yang kesekian kalinya, Gia terdiam. Lalu tiba-tiba bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman lembut. Tangannya bergerak kembali di atas deretan keyboard pada laptopnya.

Aku mencintaimu.

Rangkaian kata itu hanya mampu ditatapnya dalam diam, tanpa ia mampu menekan tombol enter untuk mengirimkannya pada Azkar. Gia kembali menghapus sederet kata tak terkirim itu, sebelum ia kehilangan kendali dengan tanpa sadar mengirimkannya pada sahabatnya. Gia akhirnya memilih memainkan The Sims Social miliknya. Nampaknya berbulan-bulan sudah permainan itu tak tersentuh olehnya.

“Siaal!” umpat Gia karena ternyata matanya masih belum terserang kantuk meskipun satu jam manik hitam itu dipaksa menatap layar laptop. Dengan frustasi, Gia beralih ke beranda Faceboknya, setelah sebelumnya menutup aplikasi The Sims Social yang semenjak tadi ia mainkan. Lalu ada sesuatu yang mengiris-iris dadanya ketika tak sengaja ia menemukan sebuah status yang diupdate kurang lebih satu menit yang lalu.

Azkar Aufa Ananta
Gara-gara chattingan dengan Ruby, aku sampai lupa waktu. Terima kasih sudah menemaniku. Selamat tidur, Ruby. :)
Suka • Komentari • Bagikan • 1 menit yang lalu •
Ruby Shafarani menyukai ini.

Gia tak mengerti sejak kapan pandangannya berubah menjadi buram. Atau sejak kapan badannya gemetar padahal cuaca di luar maupun di dalam kamar tak terasa dingin sama sekali. Yang ia tahu, ada bagian dari tubuhnya yang merasakan sakit di dalam sini. Terasa ngilu. Terasa perih, seperti nganga luka yang ditaburi garam. Jadi karena itu, dia tak membalas pesan dariku?

Padahal Gia telah mempersembahkan diri untuk dijadikan korban dalam kisah cinta ini. Padahal Gia telah memproklamirkan diri sebagai tokoh yang mundur demi membuat Azkar melangkah maju untuk gapai kebahagiaannya. Padahal Gia-lah yang secara tak langsung telah menghubungkan benang merah di antara mereka. Tapi kenapa dengan beban seringan ini pun, Gia telah rapuh dibuatnya? Bukankah kau telah berjanji, Gia, bahwa kau akan kuat demi dia? Demi Azkar yang menjadi mentarimu kala kau butuh cahaya. Demi Azkar yang menjadi nafasmu kala kau merasa sesak. Karena itulah...
.
.
.
Jangan menangis semenyakitkan itu.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

“Tidak bisa ditolerir lagi!”

Gia sedikit terlonjak kaget mendengar gebrakan meja dan suara bariton yang menggaung milik lelaki tinggi besar di depannya. Amarah yang meletup-letup terlukis jelas di wajah kehitaman lelaki itu, membuat Gia diam-diam merasakan bulu kuduknya meremang.

“Ke mana perginya si Azkar itu? Apa dia tidak menyadari tanggung jawabnya sebagai Calon Ketua OSIS?” katanya dengan volume suara yang sedikit diturunkan.

Gia tertegun seketika. Dasar bodoh! Di saat seperti ini malah membuat ulah, batinnya. Gia tak perlu bingung memikirkan ke mana lenyapnya sahabatnya itu. Tak perlu repot-repot mengiriminya sms untuk menanyakan posisinya saat itu. Karena Gia telah mengetahui jawabannya sendiri: Azkar pergi dengan Ruby.

“Kita harus segera menindaknya, Ketua. Ini tidak bisa dibiarkan terus menerus. Sudah banyak pertemuan penting yang ia lewatkan. Seharusnya Azkar sadar dengan posisinya itu,” timpal salah seorang lelaki yang bertubuh lebih kecil.

Sekali lagi, Gia terkesiap. Menindak? Hey, itu bisa mengancam posisi Azkar sebagai Calon Ketua OSIS, Gia, sadarkah kau akan hal itu?

Lalu aku harus bagaimana?

Gia meremas rok sekolahnya dengan frustasi. Si Bodoh itu ternyata tak hanya membuat Gia harus mengorbankan perasaannya, namun juga reputasinya mesti ia pertaruhkan.

Ya, reputasinya sebagai Calon Ketua OSIS, sama seperti Azkar. Gia dan Azkar memang pasangan kandidat Calon Ketua OSIS yang digembar-gemborkan menjadi pasangan kuat yang tak lama lagi akan memperoleh gelar ‘Ketua Umum’ dan ‘Ketua I’ dalam OSIS. Hanya masalah waktu menentukan siapa yang berhak menduduki kedua posisi itu di antara Gia dan Azkar. Dan di sinilah, aura persaingan antara kedua sahabat itu pun menguar.

Kalau seperti ini, mana bisa disebut bersaing? Dasar Azkar bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh!

Gia menghela nafas berat, sangat berat hingga jika kau mendengarnya, kau akan beranggapan gadis itu terserang asma. Dengan keberanian yang telah susah payah ia bendung, Gia mengacungkan tangannya, meski mati-matian ia bertahan untuk tidak gemetar.

“Ada apa, Gia?” tanya lelaki bertubuh besar yang menjabat sebagai Ketua Umum OSIS itu.

“Izin bicara,” ucap Gia dengan tenang, padahal degup jantungnya tengah mengalami percepatan gila-gilaan. Setelah melihat lelaki itu menganggukkan kepalanya, Gia berdiri dan melanjutkan, “Ini semua... kesalahan saya, Ketua.”

Lelaki itu mengerutkan alisnya, “Apa maksudmu?”

Gia menarik nafas dalam-dalam sekali lagi, seolah ia sudah tak memiliki cukup waktu untuk menghirup oksigen di dunia ini, “Saya yang sudah membuat Azkar tidak menghadiri pertemuan selama ini.”

“Jelaskan apa maumu, Nona!” nada bicara si Ketua Umum itu tiba-tiba saja naik beberapa oktaf.

“Saya yang mengancam Azkar untuk tidak menghadiri pertemuan. Karena... saya tak ingin dia merebut posisi Ketua Umum yang saya inginkan selama ini,” demi Tuhan! Itu kata-kata menjijikkan yang pernah terlontar dari bibir Gia seumur hidupnya. Gia memang menyukai persaingan. Namun persaingan konyol dan hina semacam yang tadi ia katakan, tak pernah ada dalam kamus hidupnya. Dan tak akan pernah ada, jika saja Azkar tak membuatnya berbuat demikian.

“Pikirkan apa yang kau katakan, Nona! Jangan sampai kau menyesal,” utar si Ketua Umum setelah beberapa detik yang lalu ekspresi terkejut sempat tergambar di wajahnya.

“Saya serius, Ketua. Bukankah Anda mengenal saya selama ini?” sahut Gia karena ia menangkap adanya ketidakpercayaan dari perkataan lelaki bertubuh besar itu.

Penuturan Gia membuat si Ketua Umum tercenung seketika. Anak itu selama ini selalu bersikap jujur dan apa adanya. Bahkan ia telah mencanangkan diam-diam bahwa Gia-lah yang akan menjadi ‘pewaris’ jabatannya kelak. Namun mendengar ucapan Gia, melihat kemantapan yang tersirat di wajahnya, seolah sanggup membakar ubun-ubunnya hingga hangus tak berbentuk.

“Tidakkah kau sadar, Gia, bahwa perbuatan yang kau lakukan itu adalah kotor?” Gia sempat melihat Ketua-nya mendengus keras-keras dan terengah-engah saat mengucapkan kata-kata itu, terlihat sekali ia sedang berusaha mati-matian menahan amarahnya.

“Saya sadar akan hal itu, dan saya mohon maaf. Sebagai kompensasinya, saya akan mengundurkan diri dari OSIS. Tapi tolong,” Gia menundukkan kepalanya dalam-dalam, “...jangan berikan hukuman pada Azkar.”

“Dengar, Gia. Kami, OSIS, memang tidak membutuhkan pengecut yang haus akan kekuasaan macam kau. Dan tindakan ini sudah di luar batas kewajaran,” tutur pria bertubuh kecil di sisi Ketua Umum dengan tenang, namun kata-katanya itu sanggup membuat kedua mata Gia memerih bagai ditaburi merica, “Kami sangat kecewa padamu.”

Si gadis malang semakin menundukkan kepalanya, hingga beberapa tetes air di matanya meluruh dan membasahi lantai. Gia menyeka cepat-cepat wajahnya yang basah lalu kembali menegakkan kepalanya. Ditatapnya kedua orang pemimpin di OSIS itu dengan berani. Biarlah. Biarlah ia menumbalkan dirinya sekali lagi. Biarlah ia sendiri yang akan menanggung panasnya bumi ketimbang hanya berdiam diri menyaksikan ‘cahaya matahari’nya padam.

“Karena itulah,” Gia memantapkan suaranya, “...biarkan saya yang menanggung hukumannya.”

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Gadis itu tengah tertawa dengan riangnya. Seolah ia masih memiliki waktu seribu tahun lagi menjejakkan kakinya di bumi. Sedang pemuda di sampingnya berjalan dengan lengan yang tersampir di pundaknya. Es krim Magnum di tangannya dibiarkannya mencair, seperti hatinya yang juga mencair kala pemuda di sampingnya membisikkan sesuatu di telinganya, “Aku mencintaimu, Gee.”

Ah! Andai saja imajinasi itu benar-benar dialaminya saat ini. Yah, andai saja. Kau tahu, bukan, kekuatan dari dua kata ‘andai saja’? Itu berarti kenyataan yang terjadi adalah berbanding 180 derajat dari yang telah diimpikan.

Berdiri mematung di bawah terik bergejolak yang membuat isi tempurung kepala siapapun mendidih, tentu bukan suatu hal yang menyenangkan bagimu. Dan pernyataan itu takkan disangkal oleh Gia, si gadis malang yang tengah mengalami langsung pengalaman mengerikan tersebut.

Sehabis dibentak habis-habisan sehingga membuat Gia nyaris menjadi tunarungu, Gia lalu diperintah untuk berdiri menantang ‘si bola kuning menyala yang tergantung di atas’. Bukannya Gia sok hebat karena bersedia menghadap matahari yang demi apapun di dunia ini, sangat panas teriknya, tetapi juga untuk bertanggung jawab atas pernyataan kesanggupannya dalam menanggung hukuman menggantikan Azkar.

Gia hanya sanggup meringis saat mendapati beberapa orang yang lewat, sejenak mengalihkan perhatian mereka terhadapnya. Dari tiga jam yang lalu semenjak ia berdiri di tengah lapangan upacara ini, sudah banyak Gia menerima tatapan berbeda-beda dari orang-orang di sana. Ada yang menatapnya dengan rasa iba, mengejek, tatapan cuek, ada juga yang langsung berbisik-bisik dengan temannya.

Gia memejamkan matanya sesaat, merasakan pandangannya mulai mengabur dan kepalanya terasa memberat. Gadis itu sedikit tersentak kala sesuatu yang hangat tiba-tiba mengalir dengan bebas dari hidungnya. Kenapa hidungku beringus di saat panas begini? batinnya.

Gia menyeka cairan itu, dan nafasnya tercekat ketika menemukan telapak tangannya berubah warna menjadi merah. Oh, bukan kulitnya yang berubah menjadi merah, tentu saja. Tetapi karena cairan merah mengerikan dan berbau amis yang memenuhinya. Gadis itu mendengus. Huh, sejak kapan aku jadi selemah ini? Gia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu mendesah kesal.

“Cih, padahal tinggal dua jam lagi...”

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Gia dengan terpaksa harus menegakkan tubuhnya yang semula berjalan sempoyongan gara-gara lima jam menantang matahari, saat mendapati seorang pemuda yang berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam mengarah padanya. Gadis itu hanya tersenyum singkat dan berniat untuk berlalu dari hadapan pemuda itu. Ya, hanya jika tak ada perkataan yang membuat langkahnya terhenti.

“Sudah cukup, Gia. Berhenti melakukan tindakan bodoh.”

Gia memutar matanya dengan dramatis, kemudian berbalik menghadap pemuda itu, “Ah, jika Azkar menanyakanku, tolong katakan aku mengundurkan diri dari OSIS, ya,” katanya mencoba mengalihkan, sambil melontarkan senyum manis.

Pemuda di hadapannya menghela nafas jengkel, “Kau masih tetap memedulikannya? Ini sudah di luar batas, Gia. Kau sudah cukup berkorban banyak untuknya. Ini sudah sangat cukup.”

Gia menarik nafas, berusaha untuk tidak hilang kendali, “Berhenti mengurusi urusan pribadiku, Sammy.”

“Dia bahkan tidak mengindahkanmu.”

“AKU TIDAK PEDULI!” Sammy terlonjak kaget mendengar Gia membentaknya seperti itu. Gadis yang biasanya tenang dan pendiam itu, kini kehilangan kontrolnya. Dan dari bentakan Gia padanya, Sammy tahu bahwa gadis itu terluka, “AKU HANYA MENCINTAINYA DAN AKU BAHAGIA KARENA ITU!” ya, hanya Sammy yang mengetahuinya. Hanya Sammy yang mengetahui bahwa Gia mencintai Azkar. Dari sekian banyak kawan yang dimiliki Gia, hanya Sammy yang menyadari bahwa Gia diam-diam memperhatikan sahabatnya. Memandangnya dari jauh.

Sammy masih bergeming saat Gia berbalik untuk pergi. Namun belum sampai lima langkah, gadis itu kembali membalikkan badannya ke arah Sammy.

“Aku tak pernah memintanya untuk mencintaiku, jadi jangan pernah mengatakan sesuatu yang tidak kau mengerti.”

Dan dengan kata-kata terakhir itu, menjauhlah Gia dari pandangan Sammy. Meninggalkan pemuda itu yang masih mematung dengan sejuta hal yang memenuhi pikirannya.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

“Hey!”

Gia mendongakkan kepalanya, dan menemukan seorang pemuda lagi di hadapannya. Gadis itu diam-diam berdecak kesal. Demi Tuhan, dia sedang tak ingin bertemu dengannya!

“Kau kenapa, Gee? Mukamu pucat begitu.”

“Aku tak apa. Hanya butuh istirahat sebentar.”

Gia dapat menemukan tatapan penuh selidik dari lelaki di depannya, dan demi apapun, itu membuatnya risi.

“Kenapa kau melakukannya?”, tanya pemuda itu.

Gia mengerenyitkan dahinya, “Melakukan apa?”

“Mereka bilang, kau mengundurkan diri. Kenapa kau melakukan itu?” lelaki itu menunjukkan tatapan terluka, dan Gia benci dengan tatapan itu. Tahukah kau, wahai pemuda, bahwa tatapanmu itu hanya akan membuat Gia terjatuh dan seribu kali lebih terluka dibanding dirimu?

“Sudahlah, Azkar,” oh, bahkan Gia menyebut namanya, dan bukan ‘Zee’? Ada apa dengan gadis ini? “Aku hanya merasa lelah dengan semua tanggung jawab OSIS itu, dan aku perlu beristirahat. Seharusnya kau berterima kasih padaku, karena kau sudah terbebas dari saingan terberatmu,” Gia tersenyum, namun demi Tuhan, ini bukan Gia yang dikenalnya!

Gia yang dikenal Azkar adalah seorang gadis yang kuat. Gadis yang akan terus berdiri meski tsunami menerjangnya. Gadis yang akan terus melangkah meski matahari menghantam tubuhnya. Bukan gadis yang mengeluh hanya karena lelah dengan tanggung jawab. Demi es krim Magnum kesukaan Gia! Gia adalah gadis yang hingga mati pun akan memikul tanggung jawabnya. Lalu ke mana perginya Gia yang itu?

“Katakan apa yang kau sembunyikan dariku, Gee!” terdengar nada mengintimidasi dari suara Azkar. Gia hanya tersenyum, namun senyuman yang sarat akan keputusasaan.

“Tidak ada,” ucapnya singkat, “Dan...oh! Karena aku sudah mempermudah jalan untukmu di OSIS, utangmu bertambah, Kawan. Kutunggu lima es krim Magnum darimu. Jangan sampai lupa!” gadis itu terkekeh pelan, “Sudah, ya. Aku pulang.”

Azkar hanya sanggup menatap punggung Gia yang menjauh darinya. Menghela nafas, lelaki itu lalu bergumam, “Kau ini kenapa, Gee? Membuatku khawatir saja.”

Ah! Benarkah itu, Azkar? Jika ya, mengapa bahkan kau tak mampu melihat air mata yang luruh di wajah gadis itu?

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

From : Azkar – Cowok – Sok – Keren
Datanglah ke taman. Kutunggu kau di sana sampai kau datang.

Gia menghela nafas sejenak. Sudah saatnya. Ya, sudah saatnya ia mengakhiri permainan kucing-kucingan ini. Gia sudah lelah jika harus terus menerus melarikan diri dari Azkar.

Hari di mana ia mengundurkan diri dari OSIS, juga merupakan hari terakhirnya melihat wajah Azkar. Gia menghilang sejak hari itu. Membuat Azkar tanpa sadar merasakan ada sesuatu yang hilang dari dirinya, sesuatu yang hilang direnggut Gia bersamaan dengan menghilangnya gadis itu dari pandangannya.

Mati-matian Azkar mencarinya. Berharap sahabatnya itu akan kembali bersedia mendampingi dirinya, mendengarkan segala yang ingin diutarakannya, atau bahkan kembali melontarkan ejekan-ejekan pedas yang akan berakhir dengan perang fisik di antara kedua sahabat itu. Tapi tak apa, Azkar sangat merindukan saat-saat itu. Sehingga ia rela repot-repot mencari Gia karena gadis itu tak sekalipun membalas pesan darinya. Azkar mencari di sekolah, di rumah Gia, di taman tempat mereka biasa bermain bersama, bahkan di rumah teman-teman sepermainan Gia. Namun hanya nihil yang ia dapatkan.

Itulah mengapa Azkar menyesal telah menyangsikan kata-kata yang pernah diberikan gurunya: Kau akan merasakan betapa sesuatu yang kau miliki itu berharga manakala kau sudah tidak memilikinya. Dan Azkar akhirnya menemukan jawabannya sendiri, bahwa Gia benar-benar berharga baginya.

Gia melangkahkan kakinya menuju taman. Ada sesuatu yang membuncah di dadanya kala membayangkan ia akan kembali melihat wajah yang selama ini selalu menjadi menu utama dalam proses kerja otaknya. Sesuatu yang ia sendiri tak mengerti.

Keliru besar rasanya jika ia pikir bisa melarikan dirinya begitu saja dari Azkar. Dua hari saja dia menghilang, dua hari itu pula ia bagai bunga yang haus akan air. Karena Gia merasa ada ruang yang kosong dalam dirinya, yang biasanya selalu diisi oleh kehadiran Azkar. Karena baginya, Azkar adalah sebongkah kepingan puzzle di hidupnya. Jika Azkar tak ada, maka hidupnya takkan lengkap. Takkan sempurna.

Kecepatan degup jantungnya berekskalasi puluhan kali lipat manakala dilihatnya seorang pemuda yang duduk di bangku taman yang menghadap danau, membelakangi dirinya. Gia berjalan perlahan menghampiri pemuda itu, lalu duduk di sampingnya dengan hati-hati.

“Hey, Zee. Lama tidak bertemu, ya. Bagaimana dengan Rub...“

“Benci,” satu kata itu membungkam mulut Gia, sekaligus memudarkan senyum yang tersungging di wajahnya.

“Apa? Kau kenapa, Zee?” Gia dapat melihat bahwa tatapan sahabatnya itu penuh dengan rasa sakit dan kecewa, meskipun kedua manik hitam itu tak sedang menatapnya.

“Dia... membenciku.”

Gia menatap sahabatnya yang masih menatap hamparan danau di hadapannya dengan pandangan kosong, “Apa yang terjadi?”

“Dia tidak mencintaiku. Dia hanya menjadikanku pelampiasan dari rasa sakitnya akibat putus dengan kekasihnya.”

Gia tak sadar bahwa tangannya tiba-tiba terkepal. Gia tak menyadari bahwa nafasnya tiba-tiba memburu. Yang ia tahu saat ini hanya satu, bahwa ia ingin sekali menghubungi Afriyani untuk melindas tubuh Ruby dengan truk, atau memanggil Nurdin M. Top untuk memasangkan bom pada tubuh Ruby lalu meledakkannya, dan memberikan mayat gadis itu pada Sumanto untuk dimakannya.

Namun yang paling dirasakannya adalah, bahwa ia merasakan jauh lebih sakit dibanding saat Azkar mengatakan bahwa ia menyukai Ruby. Hatinya jauh lebih perih ketimbang saat Azkar meng-update statusnya waktu itu. Batinnya jauh lebih sesak daripada saat ia harus mundur dari OSIS dan menanggung hukuman demi Azkar beberapa waktu ke belakang.

Beginikah balasan dari seluruh pengorbanannya dahulu? Seperti inikah timbal balik dari semua yang telah diserahkannya untuk menebus kebahagiaan Azkar? Mengapa rasanya sulit sekali untuk membuat sahabat yang dicintainya itu bahagia? Kenapa takdir rasanya enggan membuatnya dapat menghirup aroma kebebasan tanpa harus menanggung rasa sakit itu sekali lagi?

“Zee, aku...”

“Dia membuangku, Gee. Dia membuangku setelah dia kembali pada kekasihnya,” Azkar mengacak rambut hitam kelamnya dengan frustasi.

Gia memandang iba padanya, “Lalu, apa yang membuatnya membencimu?”

“Aku,” Azkar menunduk dalam-dalam, menghela nafas dengan berat, seolah yang akan dikatakannya nanti akan menjemput mautnya, “...memaksa menciumnya.”

Dan Gia bersumpah, seandainya Malaikat Izrail datang dan membawa jiwanya saat itu, ia akan rela. Seandainya kedua telinganya direnggut saat itu, ia takkan keberatan. Karena dengan mendengar penuturan sahabatnya itu, Gia merasa ada silet yang menyayat-nyayat hatinya. Membuatnya mati-matian menahan segala rasa ngilu yang membuncah dalam dadanya, membuat matanya pedih.

“Aku terlalu mencintainya...” Azkar tersenyum perih hingga jika kau melihatnya, kau juga akan melihat hati pemuda itu yang terkoyak.

Gia terdiam. Betapa Gia tak paham akan persoalan yang ia hadapi saat ini. Yang seperti inikah rupa cinta yang sesungguhnya? Salahkah Gia bila ia mengklaim perasaannya sebagai sesuatu yang bernama cinta? Jika cinta yang sebenar-benarnya adalah yang seperti ini, lalu dinamakan apa perasaannya terhadap Azkar?

“Maaf...” Gia menarik kepala Azkar lalu diletakkan di atas bahunya, “Maaf, aku malah pergi di saat kau membutuhkanku,” air mata sudah berkumpul di kelopak mata gadis itu dan siap turun jika sekali saja dia mengerjapkan matanya.

Azkar menikmati sentuhan Gia yang mendamaikan hatinya itu, sentuhan yang amat dirindukannya, “Karena itu... jangan pernah pergi lagi.”

Gia mengangguk perlahan. Gia bersumpah, bahwa kebodohannya meninggalkan Azkar tempo lalu adalah kebodohan terakhirnya. Gia berjanji akan selalu ada saat sahabatnya itu menginginkan dirinya di sisinya. Seperti musim semi yang akan selalu mendampingi musim dingin. Gia berjanji akan selalu menjadi musim semi yang menyejukkan Azkar kala musim dingin membekukannya. Musim semi yang menghangatkannya kala musim dingin memadamkan cahaya mentarinya. Karena musim semi tak akan ada jika musim dingin lenyap. Karena Gia tak akan berarti jika Azkar tak menampak.

Kita seperti dua sisi rel kereta api. Selalu bersebelahan tanpa pernah bersatu.

“Gee... dia terluka karena aku,” Azkar tetap terpaku dalam pelukan Gia, lalu tiba-tiba perkataan itu meluncur dari mulutnya, “Aku... takkan mendekatinya lagi.”

Dan setetes air jatuh dari mata Gia tanpa gadis itu repot-repot untuk mengerjapkan matanya.

“Sudahlah, Zee. Semuanya sudah terjadi,” Gia berusaha menekan suaranya yang bergetar, “See, dia juga berbuat jahat padamu, anggap saja kalian impas,” Gia dapat merasakan Azkar mengangguk kecil di atas bahunya. Gadis itu tersenyum tulus, “Oh, ya. Soal utangmu, kudiskon habis-habisnya menjadi 2 es krim Magnum. Bagaimana?” Gia tertawa kecil saat kepala Azkar di bahunya bergetar, menandakan bahwa pemuda itu juga sedang tertawa.

“Kau merusak suasana, Gadis Barbar!” katanya seraya terkekeh sambil menegakkan kembali kepalanya.

“Tak apa, asalkan sahabatku ini bisa tersenyum kembali,” tutur Gia sembari tersenyum manis. Kedua tangannya lalu menyentuh kedua pipi Azkar, merangkumnya dengan lembut, “Dengar, suatu saat nanti kau akan menemukan kebahagiaanmu. Dan menemukan wanita yang benar-benar mencintaimu.”

Azkar hanya sanggup menyunggingkan senyuman tulusnya mendengar kata-kata itu. Senyuman yang semula hanya diberikannya pada Ruby. Senyuman yang semula hanya akan diberikannya pada orang yang benar-benar berharga baginya. Dan kini ia tahu, bahwa Gia adalah orang yang tepat.

Azkar kembali tersadar dari lamunannya saat Gia menepuk pipinya dengan perlahan, dan ia menemukan senyuman malaikat di wajah gadis itu sekali lagi.  Tak ingin lama-lama terjerat oleh senyuman mendamaikan itu, Azkar segera mengalihkan pandangannya ke arah danau. Menatap air bening itu dalam diam, namun tak akan ada yang menyangka bahwa kini otaknya tengah dipenuhi oleh siluet wajah milik sahabatnya.

Gia terkikik geli mengawasi sahabatnya yang tampak salah tingkah, lalu tatapannya melembut di detik kemudian. Tanpa sadar, tangan Gia meraih sehelai daun yang terjatuh di atas bangku yang didudukinya. Diarahkannya tangannya yang memegang daun itu ke kepala Azkar. Kemudian diam-diam diletakkan daun itu di atas rambut pemuda itu.

"Ada daun di kepalamu," ujar Gia sembari menyingkirkan daun itu dengan membelai lembut rambut Azkar.

Dan Gia merasakan ada sesuatu yang berdesir lembut dalam hatinya. Ada sesuatu yang bergetar di dalam sana saat tangannya menyentuh rambut halus dan hitam milik Azkar. Ada perasaan damai yang memonopoli dadanya kala Azkar menoleh padanya akibat sentuhan itu, lalu tersenyum.

“Sampai jumpa, Gee. Terima kasih untuk semuanya. Kau memang sahabatku yang paling baik,” ucap Azkar tulus dengan senyuman yang masih tersungging di bibirnya. Gia harus menahan diri untuk tidak terjatuh pingsan ketika Azkar menaruh telapak tangannya di pipi merah merona milik gadis itu, sembari menatap kedua mata Gia dengan pandangan lembut. Sentuhan yang biasa, namun berlumurkan kasih sayang, seolah mampu mewakili segala perasaan yang tak sanggup dilisankan. Pemuda itu tersenyum untuk yang terakhir kalinya, “Aku menyayangimu.”

Gia hanya sanggup terpaku menatap punggung Azkar yang menjauh darinya. Tersenyum bahagia, gadis itu berucap lirih, hingga Azkar tak dapat mendengar suaranya.

“Begitupun aku.”

Karena meskipun bernafas, diriku mati jika tak menyaksikan senyummu.

Aku tak mampu melihat, meskipun bisa memandang.

Sebab bahagiamu seperti kerangka untukku berdiri,

udara untukku bernafas,

air untukku melepas dahaga.

Dengar, satu fakta tentang kejujuran.

Kata, tak mampu mewakilkan hati.

Hanya hati, yang mampu mewakilkan kata.

Meskipun tak bersama, izinkan 1 hari saja, atau bahkan sepuluh detik saja,

aku ingin menjadi angin yang menghapus air matamu.

Dan juga,

Musim semi yang menghangatkan dinginmu.



By : Della Annissa Permatasari
Cianjur, 13-18 Maret 2012 (saat sedang galau)

Jamaluddin Djavu cerpen cinta, cerpen remaja
Monday, December 17, 2012

Cerpen : Hujan


Sayangku, hujan banyak turun di bulan ini. Jatuh butir demi butir dan menghantam tanah bumi dengan lembut. Aku suka memandang hujan. Seperti kali ini, saat-saat kusaksikan air bening itu meluruh dari langit.

Sayang, hujan itu indah. Bagiku hujan tak pernah kehilangan keromantisannya meskipun ia bisa mengakibatkan banjir, meskipun ia penyebab tsunami. Melihat guratannya yang putih bening, yang jatuh berhamburan dari langit, aku selalu ingat binar bola matamu. Mata yang tajam namun tak pernah kehilangan pesonanya. Hingga aku selalu terhipnotis dan terperosok ke dalam dimensi yang indah ketika aku menatap mata itu.

Sayang, hujan itu melodi. Ia begitu indah ketika jatuh menderas dan menerpa bumi. Aku suka suara gemericik hujan. Indah. Seperti suaramu yang mengalun cantik di telingaku, menciptakan simfoni yang paling mendamaikan. Suara saat kau membisikkan kata-kata cinta, dan ketenangan kala aku merasa resah.

Sayang, aku cinta hujan. Hujan mengingatkanku ketika kita berlari menerobosnya dan kau genggam tanganku. Hujan memutar seluruh video kenangan saat kita bersama. Harmoni yang takkan pernah digantikan dengan seluruh alam semesta sekalipun.

Aku suka hujan, Sayangku. Karena ketika aku menatap langit yang menumpahkannya, aku melihat siluet wajah dan senyummu di atas sana. Senyum yang selalu menjadi menu utama dalam proses kerja otakku. Senyum yang senantiasa aku rindukan. Seperti sekarang, saat-saat kurindukan senyummu yang meneduhkan itu.

Sayang, hujan itu hangat. Karena ketika aku kedinginan akibatnya, kau akan menghangatkanku dengan rengkuhmu, dengan cinta dan kasih sayangmu. Dan aku akan jatuh tertidur di atas pangkuanmu, dengan belaian-belaian berlumurkan sayangmu di atas kepalaku.

Hujan itu memesona, Sayangku. Karena manakala hujan turun, aku rasakan wangi tanah yang meruap dari kedalaman. Memberikan rasa damai, memberikan segenggam harapan yang sempat porak poranda. Seperti aroma tubuhmu, yang akan selalu menenangkanku kala kucium.

Sayang, hujan itu baik. Dia selalu menjadi kawan berbagi keluh kesahku saat kau tak lagi di sisiku. Meski tak kulisankan, namun ia akan paham dengan segenap hal yang aku rasakan. Hujan akan menderas kala kesedihan merambas, hujan akan meneduh kala keterpurukan merubuh. Dan tatkala hujan berhenti, kulihat pelangi dengan tujuh warnanya yang memikat menghiasi langit terbuka.

Dan aku cinta hujan, Sayangku. Cinta yang begitu besar. Seperti cintaku untukmu yang tak akan pernah melonggar meski waktu telah merenggut usiaku, meski bumi telah merenggut tubuhku.

Cintaku, dengar, jika hujan itu adalah seorang manusia, aku akan berterima kasih padanya. Karena ia yang menemaniku saat aku menangis sebab merindukanmu, karena ia yang menghiburku saat aku terjatuh sebab kau pergi dari sisiku. Aku cinta hujan, Sayang, seperti aku mencintai hatimu.

Sudah lama, aku menyulam khayalan pada tirai hujan
menata wajahmu di sana serupa puzzle,
 sekeping demi sekeping, dengan perekat kenangan di tiap sisinya
lalu saat semuanya menjelma sempurna
kubingkai lukisan parasmu itu dalam setiap leleh rindu
yang kupelihara di sudut hati dengan rasa masygul
dari musim ke musim

“Cinta selalu memendam rahasia dan misterinya sendiri,
pada langit, pada hujan,” katamu lirih terbata-bata.
Dan seketika, linangan air matamu menjelma
bagai deras aliran sungai yang menghanyutkanku jauh ke hulu
di mana setiap harapan kita karam di sana

Sudah lama, aku memindai sosokmu pada derai gerimis
memastikan setiap serpih mimpiku untuk bersama
membangun surga di telapak kakimu dapat menjadi nyata
tapi selalu, semuanya segera berlalu
dan sirna bersama desir angin di beranda

“Percayalah, aku ada di nadimu seperti kamu ada di darahku,” bisikmu pelan ketika bayangmu, perlahan memudar di balik rinai hujan..
(Amril Taufik Gobel : “Hujan Membawa Bayangmu Pergi”)


Della Annissa Permatasari
Cianjur, 23 Maret 2012

Jamaluddin Djavu cerpen cinta, cerpen motivasi
Thursday, December 6, 2012

Ilusi


Hey, Kawan..
Kau mau mendengarkan sebuah cerita?
Ini cerita tentang mimpiku di suatu malam
Malam yang hening dengan langit hitam sebagai latar,
dengan rasa dingin yang menjelma menjadi selimut dalam tidurku,
disertai bantal kepenatan, dan beralaskan tikar sepi
Ini mimpiku...
Mimpi yang...yah, kau bisa menyebut itu mimpi indah,
atau...
mimpi yang ironi
Aku melangkah di sebuah jalan,
jalan yang amat panjang
Mungkinkah ini jalan menuju ujung dunia?
Entahlah, aku tidak tahu
Kau tahu?
Padahal awalnya pandanganku hanya terpaku ke bawah,
hanya laju kakiku yang saat itu paling menarik perhatianku,
ketimbang kapal ferry yang bertabrakan dengan kereta api di jalan raya sekalipun
Namun di menit selanjutnya, semua berubah
Entah magnet apa yang menarikku untuk menengadah
Dan di saat itu, aku melihatnya,
sesosok makhluk yang, err...kau bisa sebut dia manusia,
atau bukan?
Karena kenyataannya dia memiliki sihir hebat yang membuatku,
terjerat akan tatapannya
Ya, dia menatapku
Di sudut jalan itu, dia memandangku,
membuatku tak menyadari laju kakiku telah terhenti sejak tadi
Dan aku, menatap sosoknya
Menatap sosoknya yang berkulit coklat, hidungnya yang mancung, dan rambutnya yang hitam sehitam bola matanya
Dan dia tersenyum,
aku tertegun
Merasakan darahku yang berdesir lembut di dalam urat nadiku,
dan degup jantungku yang entah sejak kapan telah mengalami percepatan gila-gilaan
Sungguh…
Dia…Mahakarya Tuhan yang paling indah,
bagiku
Begitu bersinar hingga aku harus memincingkan mataku saat melihatnya
Hey, jangan anggap aku berlebihan!
Kau akan berubah pikiran jika menjadi diriku
Dan…aku masih bermain dengan fantasiku ketika ia berjalan menghampiriku,
dan entah sejak kapan tiba-tiba kurasakan hangat tangannya membungkus lembut tanganku
Ia kembali tersenyum…
Manis!
Lalu ia menarikku,
membawaku ke dalam pelangi kehidupan
Berwarna…
Mengajakku menyelami sebuah samudera bernama cinta, kasih sayang, atau apalah itu
Dan aku masih mengingat bagaimana tawanya memecahkan kepayahanku waktu itu
Betapa manisnya!
Sekali lagi, aku menatap wajahnya
Membiarkan kedua mataku menjelajahi setiap detail keindahan yang dimilikinya
Biarlah otak dan hatiku menyimpan baik-baik rekaman segala tentang dirinya
Agar ketika suatu saat nanti jika aku harus terenggut darinya, aku akan selalu mengingatnya,
dan semua keindahannya yang telah mempropaganda pertahananku
Bahkan hingga ke dimensi lain
Dan…oh, aku lupa satu hal!
Siapa dia?
Malaikatkah?
Atau…inikah yang disebut kekasih Tuhan?
Aku tak tahu
Apakah kau mengetahuinya, Kawan?
Ah, jangan katakan itu!
Jangan katakan kalau ini hanya sebatas…ilusi!
Ilusi??
Hmm…yah, ilusi
Dan jika ini memang benar-benar ilusi dari mimpiku, Tuhan,
jangan pernah biarkan aku terjaga dari mimpi indah ini
Karena jika aku terbangun, aku takkan menemukan sosoknya lagi,
dan juga senyum manisnya

By : Della Annissa Permatasari pada 24 Maret 2011 pukul 20:20 •
Jamaluddin Djavu Cerita, kata-kata mutiara